Teknologi

Kerja Sama Republikorp: Baykar, BrahMos, hingga EDGE Group

Kerja Sama Republikorp
Kerja Sama Republikorp

Kerja sama Republikorp dengan manufaktur militer dunia terus bertambah di bawah komando Norman Joesoef. Mitranya datang dari Turki, India, Uni Emirat Arab, Italia, Korea Selatan, hingga Slovakia.

Turki menjadi mitra dengan daftar kesepakatan paling panjang. Republikorp menandatangani kesepakatan fasilitas manufaktur drone Baykar di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Recep Tayyip Erdogan menyaksikan langsung momen itu.

Norman juga meneken kontrak pengadaan rudal Çakir dan Sungur. Bersama Aselsan, Republikorp memproduksi Remote Controlled Weapon System (RCWS). Sementara itu, Roketsan menjadi mitra fasilitas MRO dan produksi rudal Çakir, Atmaca, dan Hisar. MRO sendiri merupakan layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul alat.

Dengan skala seperti itu, Turki praktis mencakup drone, rudal, hingga sistem senjata kendali jarak jauh.

India dan UEA Masuk Daftar Mitra Strategis

Dari India, Norman menjadi sosok sentral dalam kesepakatan sistem rudal supersonik BrahMos. Kesepakatan itu muncul saat pertemuan bilateral Presiden Prabowo dan PM Narendra Modi. Isinya mencakup pengadaan sekaligus pengembangan bersama.

Dari Uni Emirat Arab, EDGE Group menggandeng Republikorp lewat kemitraan strategis bernilai miliaran dolar. Fokusnya transfer teknologi dan produksi bersama atau co-production. Skema ini membuat teknologi tidak berhenti di pembelian alat jadi.

Mitra dari Eropa dan Korea Selatan

Di Eropa, Republikorp menggandeng Drass Galeazzi dari Italia untuk perakitan kapal selam mini dan autonomous. Perusahaan Italia lainnya, Fiocchi Munizioni, menjadi mitra produksi amunisi. Slovakia ikut terlibat lewat EVPU dalam pengembangan turret TURRA 30.

LIG Nex1 asal Korea Selatan ikut membantu alih teknologi rudal. Jadi, peta kemitraan Republikorp kini membentang dari Asia hingga Eropa. Bagi pembaca muda yang penasaran, ini gambaran seberapa luas jaringan bisnis pertahanan swasta Indonesia sekarang.

Kenapa Alih Teknologi Penting buat Industri Lokal?

Alih teknologi berarti mitra asing membagikan ilmu dan kemampuan produksinya ke industri dalam negeri. Norman menjalankan langkah ini untuk mempercepat peningkatan kapabilitas industri pertahanan nasional. Tujuan besarnya tetap sama, yaitu memangkas ketergantungan pada impor alutsista. Dengan begitu, kemampuan produksi lokal ikut naik kelas, bukan sekadar merakit komponen impor.

Republikorp juga membangun kawasan industri pertahanan seluas 300 hektare di Subang. Lebih dari 1.000 tenaga profesional bekerja di sana. Norman mendorong sinergi pemerintah, akademisi, dan swasta agar kemandirian alutsista makin kuat.

Daftar mitra global ini menunjukkan arah Republikorp yang serius mengejar kemandirian alutsista. Norman Joesoef berada di pusat banyak kesepakatan tersebut. Publik kini menanti realisasi produksinya di dalam negeri.