Kesehatan

Minuman Manis Kanker Lambung: Risiko 2,45 Kali Lebih Tinggi

minuman manis resiko kanker lambung
minuman manis resiko kanker lambung

Kebiasaan minum minuman manis tiap hari ternyata perlu diwaspadai. Studi terbaru menemukan kaitan antara minuman manis dan kanker lambung, meski hubungan sebab-akibatnya belum terbukti.

Segelas soda atau teh manis setelah makan siang terasa sepele. Namun, peneliti di Amerika Serikat kini meminta publik menengok kembali kebiasaan itu. Temuan mereka terbit di jurnal Gastro Hep Advances dan langsung ramai dibicarakan. Bagi pembaca Indonesia, topik ini terasa dekat karena minuman kemasan bergula mudah ditemui di warung hingga minimarket.

Apa Kata Studi soal Minuman Manis Kanker Lambung?

Tim peneliti menganalisis data lebih dari 112.000 orang di Amerika Serikat. Data itu berasal dari Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Kedua studi tersebut mengumpulkan informasi pola makan, gaya hidup, dan kondisi kesehatan peserta selama bertahun-tahun. Selama masa pemantauan, 278 peserta tercatat mengalami kanker lambung.

Angka 278 kasus itu berasal dari populasi yang sangat besar. Artinya, sebagian besar peserta tidak mengalami kanker lambung selama pemantauan.

Para peneliti memasukkan beragam jenis ke dalam kategori minuman berpemanis. Contohnya minuman berkarbonasi, punch, limun, hingga minuman olahraga. Mereka lalu membandingkan dua kelompok. Kelompok pertama minum minuman tersebut minimal sekali sehari. Sementara itu, kelompok kedua meminumnya kurang dari sekali sebulan.

Risiko 2,45 Kali Lebih Tinggi, Fruktosa Ikut Disorot

Hasilnya cukup mencolok. Peserta yang minum minimal satu minuman berpemanis per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi. Pembandingnya adalah peserta yang mengonsumsi minuman tersebut kurang dari sekali sebulan. Peneliti juga menemukan bahwa asupan fruktosa yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko. Fruktosa merupakan salah satu jenis gula yang banyak terkandung dalam minuman berpemanis.

Belum Terbukti Sebab-Akibat, Ini Alasannya

Peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Dengan kata lain, hasilnya baru menunjukkan adanya hubungan. Hasil itu belum membuktikan bahwa minuman berpemanis langsung menyebabkan kanker lambung. Jadi, temuan ini bukan alasan untuk panik.

Lalu, mengapa gula bisa berhubungan dengan kanker? Peneliti membahas beberapa kemungkinan. Konsumsi gula tinggi dapat berkontribusi pada resistensi insulin. Kondisi ini membuat kadar glukosa dalam darah meningkat dan berkaitan dengan sejumlah proses perkembangan kanker. Di sisi lain, bukti tentang pengaruh minuman berpemanis terhadap mikrobioma usus terus bertambah. Peneliti menduga perubahan mikrobioma itu berhubungan dengan risiko terjadinya kanker.

Saran Pakar Harvard dan Faktor Risiko Lain

Mingyang Song, ScD, peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menyarankan masyarakat membatasi konsumsi minuman berpemanis dan gula. Saran itu tidak hanya bersandar pada hasil studi ini. Berbagai bukti ilmiah lain juga menunjukkan dampak konsumsi gula terhadap kesehatan.

Minuman manis pun bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kanker lambung. Helicobacter pylori (H. pylori), bakteri penyebab infeksi dan luka pada lambung, juga dikenal sebagai faktor risiko. Karena itu, orang yang kerap mengalami masalah atau nyeri lambung dapat berkonsultasi dengan dokter. Dokter bisa menilai perlu tidaknya pemeriksaan H. pylori.

Cara Realistis Mengurangi Gula dari Minuman

Bagi yang rutin minum minuman manis, langkah awal paling masuk akal adalah menyadari seberapa sering kebiasaan itu terjadi. Catat berapa gelas yang masuk dalam seminggu, termasuk soda, limun, dan minuman olahraga. Catatan sederhana ini membantu Anda menentukan target pengurangan yang realistis.

Mengurangi gula tidak harus langsung drastis. Mulailah dengan memperhatikan jenis minuman yang masuk setiap hari. Air putih bisa menggantikan sebagian porsi minuman manis. Ganti satu per satu, lalu lihat apakah kebiasaan baru terasa nyaman. Pendekatan bertahap biasanya lebih mudah dijalani daripada berhenti total.

Pada akhirnya, studi ini memberi gambaran adanya hubungan antara konsumsi minuman manis dan risiko kanker lambung. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa minuman manis menyebabkan kanker secara langsung. Pola makan seimbang, termasuk memperhatikan jenis minuman dan membatasi asupan gula, tetap menjadi bagian penting dari pola hidup sehat.