AI tenaga kesehatan Indonesia mulai meningkatkan efisiensi kerja, dengan 59 persen pengguna mengaku menghemat rata-rata 88 jam setiap tahun.
AI tenaga kesehatan Indonesia kini semakin masuk ke aktivitas kerja sehari-hari. Teknologi tersebut membantu tenaga kesehatan mengolah informasi hingga mendukung analisis klinis.
Berdasarkan laporan Future Health Index (FHI) 2026 dari Philips, sebanyak 63 persen tenaga kesehatan Indonesia menyebut penggunaan AI dari institusi mereka meningkat dalam setahun terakhir.
Menariknya, peningkatan adopsi itu berjalan bersama manfaat yang dirasakan langsung dalam pekerjaan. Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan melaporkan alur kerja mereka menjadi lebih efisien.
AI Mempercepat Diagnosis Tenaga Kesehatan
Selain efisiensi, AI juga membantu mempercepat sejumlah proses terkait diagnosis. Sebanyak 87 persen tenaga kesehatan mengatakan akses terhadap hasil diagnosis menjadi lebih cepat.
Sementara itu, 82 persen responden menilai pengambilan keputusan terkait diagnosis juga berlangsung lebih cepat setelah memanfaatkan teknologi berbasis AI.
Menurut Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan, perubahan tersebut menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap AI dalam layanan kesehatan.
“Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” ujar Astri, Rabu (19/8/2026).
Ia menilai waktu yang berhasil dihemat dapat digunakan tenaga kesehatan untuk menelaah kasus secara lebih cermat. Selain itu, tenaga kesehatan dapat lebih fokus pada pekerjaan klinis yang penting.
Tenaga Kesehatan Mulai Gunakan AI Pribadi
Di sisi lain, penggunaan AI tidak hanya berasal dari perangkat yang disediakan institusi kesehatan. Sebanyak 57 persen tenaga kesehatan memakai AI generatif untuk membahas ide terkait pekerjaan.
Bahkan, 58 persen responden mengaku menggunakan alat AI pribadi ketika pilihan dari tempat kerja belum memenuhi kebutuhan mereka.
Faktanya, kondisi tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan terhadap teknologi AI. Namun, penggunaan alat pribadi juga membawa persoalan mengenai validasi klinis, keamanan, privasi, dan akuntabilitas.
Karena itu, penggunaan AI tenaga kesehatan Indonesia perlu berjalan bersama pemahaman terhadap akurasi hasil teknologi. Tenaga kesehatan tetap membutuhkan kemampuan untuk memeriksa keluaran AI sebelum menggunakannya.