Kesehatan

AI untuk Genom Indonesia: Dari Diagnosis hingga Pencegahan

AI untuk genom Indonesia membuka peluang pengembangan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan melalui analisis data genom dan pembelajaran mesin.
AI untuk genom Indonesia membuka peluang pengembangan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan melalui analisis data genom dan pembelajaran mesin.

AI untuk genom Indonesia menjadi peluang pengembangan kesehatan berbasis data, setelah teknologi ini menunjukkan kemampuan membaca pola DNA dan sejarah evolusi manusia.

AI untuk genom Indonesia menghadirkan ruang pengembangan baru dalam layanan kesehatan. Teknologi ini memungkinkan peneliti membaca pola biologis melalui pengolahan data genom.

Penggunaan tersebut terlihat dari dua penelitian yang menjadi rujukan. Penelitian pertama menghubungkan data genom dengan risiko keguguran, sedangkan penelitian kedua menggunakannya untuk membaca sejarah manusia.

Dalam studi Rutgers University, peneliti memadukan pengurutan genom dengan machine learning. Metode itu membantu memprediksi kemungkinan keguguran akibat aneuploidi pada sel telur.

Genom Menjadi Basis Pengembangan AI Kesehatan

Dalam konteks tersebut, genomik memiliki peran penting karena bidang ini mempelajari struktur, fungsi, evolusi, pemetaan, dan pengeditan genom.

Selain kesehatan reproduksi, teknologi serupa berkembang untuk membaca perjalanan evolusi manusia. Peneliti IBE, CNAG-CRG, CRG, dan Universitas Tartu memanfaatkan pendekatan AI.

Hasilnya, mereka menemukan jejak nenek moyang yang tidak diketahui dalam genom individu Asia. Populasi tersebut merupakan hasil persilangan Neanderthal dan Denisovan dengan manusia modern.

Yang menarik, peneliti menjalankan ratusan ribu simulasi genom. Algoritma kemudian mempelajari pola untuk memprediksi kemungkinan demografi manusia.

Dengan kata lain, AI dapat membantu peneliti mengolah informasi biologis dalam jumlah besar. Kemampuan tersebut membuka peluang penerapan lebih luas dalam riset genomik.

Peta Jalan AI Kesehatan Indonesia

Di Indonesia, kebutuhan terhadap teknologi tersebut berkaitan dengan tantangan kesehatan yang kompleks. Karena itu, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada kebutuhan nyata.

Teknologi berbasis genom berpotensi mendukung diagnosis, pengobatan, dan pencegahan penyakit. Namun, pengembangannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, peneliti, industri, dan organisasi terkait.

Atas kebutuhan tersebut, KORIKA menggelar webinar “Kecerdasan Artifisial Untuk Pengembangan Genom di Indonesia” pada 23 Juli 2022.

Forum itu menghadirkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Deputi Ketua BRIN Mego Pinandito, CEO Huawei Cloud Indonesia Jason Zhang, serta Presiden KORIKA Hammam Riza.

Selain itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Gita Wirjawan turut masuk dalam jajaran pembicara.

Selanjutnya, pembahasan genomik menjadi bagian dari upaya mencari praktik terbaik pemanfaatan AI. Fokusnya bukan hanya teknologi, tetapi penerapan yang efektif dan efisien untuk kebutuhan kesehatan.