AI genomik mulai menunjukkan manfaat di bidang kesehatan melalui analisis DNA untuk memprediksi risiko keguguran akibat kelainan kromosom.
AI genomik membuka peluang baru dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis data. Salah satu penerapannya terlihat dalam penelitian Rutgers University.
Peneliti Rutgers menggabungkan pengurutan genom dengan teknik pembelajaran mesin. Mereka mengembangkan analisis khusus genom wanita untuk memprediksi kemungkinan keguguran.
Penelitian tersebut terbit dalam jurnal Human Genetics pada 2022. Fokusnya berkaitan dengan keguguran akibat aneuploidi pada sel telur.
Pembelajaran Mesin Analisis Genom
Secara faktual, aneuploidi terjadi ketika sel telur memiliki jumlah kromosom yang tidak normal. Kondisi tersebut menjadi salah satu bentuk keguguran yang umum.
Dalam penelitian itu, algoritma pembelajaran mesin memproses informasi genom. Selanjutnya, sistem mencari pola yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kondisi tersebut.
Menurut para peneliti, hasil analisis dapat membantu pasien dan dokter membuat penilaian lebih terdidik. Informasi tersebut juga dapat mendukung pilihan reproduksi dan strategi perawatan kesuburan.
Menariknya, penerapan AI tidak berhenti pada analisis kondisi reproduksi. Peneliti dari sejumlah lembaga riset juga menggunakan pembelajaran mesin untuk menelusuri sejarah evolusi manusia.
AI Perlu Dikembangkan untuk Genomik Indonesia
Penelitian yang terbit di Nature Communications pada 2019 menggunakan algoritma pembelajaran mendalam dan metode statistik.
Peneliti mengidentifikasi jejak nenek moyang yang tidak diketahui dalam genom individu Asia. Mereka menemukan bukti adanya populasi leluhur yang merupakan hibrida Neanderthal dan Denisovan.
Di sisi lain, algoritma tersebut mampu memprediksi demografi manusia berdasarkan genom dari ratusan ribu simulasi.
Temuan itu menunjukkan ruang pemanfaatan AI dalam genomik cukup luas. Teknologi tersebut dapat mendukung kajian kesehatan, bioteknologi, antropologi, hingga evolusi.
Karena itu, pengembangan genomik Indonesia membutuhkan peta jalan yang jelas. KORIKA kemudian menggelar webinar bertema “Kecerdasan Artifisial Untuk Pengembangan Genom di Indonesia” pada 23 Juli 2022.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pejabat BRIN, KORIKA, Huawei Cloud Indonesia, serta Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.