Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) siap menggelar uji coba singkong padamkan karhutla langsung di lapangan pekan ini. Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan rencana itu seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Selasa (20/10/2026) malam.
Arif menyampaikan kabar ini kepada wartawan setelah Presiden Prabowo Subianto memanggilnya ke Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/10/2026) malam. Topik utamanya adalah pemanfaatan campuran singkong untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Tim BRIN kini menyiapkan bahan yang sudah tersedia untuk dibawa ke lokasi uji.
Soal waktu, Arif menyebut pelaksanaan berlangsung pekan ini. "Insyaallah sekarang kita ke lapang minggu ini," ujarnya. Pernyataan itu menandai pergeseran dari tahap kajian ke praktik di medan sebenarnya.
Namun, Arif belum merinci lokasi uji coba. Target luasan penanganan karhutla juga belum jelas. Informasi itu penting karena menentukan seberapa besar dampak uji coba ini. Publik masih menunggu detail teknis dari BRIN.
Bahan Tambahan APP Masih Harus Diimpor
Campuran itu ternyata tidak hanya berisi singkong. Arif menjelaskan bahwa proses pembuatannya membutuhkan Ammonium Polyphosphate atau APP. Senyawa kimia ini berfungsi sebagai penghambat api.
Masalahnya, BRIN masih perlu mendatangkan APP dari luar negeri. Arif menegaskan hal itu dengan lugas. "Jadi ada APP yang memang harus diimpor untuk mencampur singkong itu," katanya.
Bahan tambahan itu juga punya fungsi praktis. Menurut Arif, APP mencegah campuran menggumpal saat pengujian karhutla berlangsung. Campuran yang tidak menggumpal tentu lebih mudah diaplikasikan.
Skala Uji Coba Diperluas dari Lahan BRIN
Sejauh ini, pengujian baru berlangsung di lahan milik BRIN. Luasnya terbatas, sehingga hasilnya belum menggambarkan kondisi karhutla sesungguhnya. Tahap berikutnya menguji campuran tersebut di area yang lebih besar.
Arif memaparkan arah pengembangannya. "Sekarang kita coba untuk luasan yang lebih besar lagi," kata dia. Ia berharap prosesnya lancar dan meminta doa dari publik.
Catatan penting datang dari pernyataan Arif sebelumnya. Pada Jumat (28/8/2026), ia menyebut penaburan bahan tidak mungkin memakai tangan. Petugas membutuhkan alat khusus, dan BRIN masih mengkajinya. Karena hasil positif masih berskala kecil, singkong belum bisa menggantikan metode pemadaman yang berjalan.
Kapasitas Produksi Menentukan Cakupan Area
Selain impor APP, produksi menjadi faktor lain yang menentukan. Arif mengaku timnya masih menghitung seberapa luas area yang bisa mereka tangani. Kapasitas produksi ikut memengaruhi angka tersebut.
"Memang lagi dihitung ini sekarang ini," kata Arif. Ia menambahkan bahwa proses produksi membutuhkan waktu. Karena itu, target luasan baru jelas setelah BRIN menghitung kemampuan produksinya.
Kalau disederhanakan, nasib uji coba ini bergantung pada tiga hal. Hal itu mencakup ketersediaan APP impor, kapasitas produksi, dan hasil uji di lahan lebih luas.
Dari Usulan Kapolri hingga Arahan Presiden
Gagasan ini tidak muncul tiba-tiba. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melontarkan ide memakai tepung berbahan singkong atau ubi dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8/2026). Presiden Prabowo kemudian meminta BRIN mengecek peluang produksi atau pengadaan bahan itu.
Pada 28 Agustus 2026, Arif menyebut kajian ahli kimia molekuler BRIN menilai gagasan itu masuk akal secara teori. BRIN juga bekerja sama dengan Polri dan berkoordinasi dengan BMKG soal teknologi modifikasi cuaca.
Apa Artinya bagi Penanganan Karhutla?
Dari sisi data, ada beberapa hal yang bisa publik pegang. BRIN menjadwalkan pengujian lapangan pekan ini, APP datang dari impor, dan target luasan belum jelas. Semua itu menunjukkan program ini masih berada di tahap awal.
Pembaca juga perlu menahan ekspektasi. Singkong memang terdengar sederhana, tetapi penerapannya menyangkut impor bahan, kapasitas produksi, dan cara penebaran di lokasi kebakaran. Hasil uji lapang pekan ini akan menjadi ukuran awal yang paling konkret.
Singkatnya, uji coba singkong padamkan karhutla kini memasuki fase yang menentukan. BRIN menyiapkan bahan, menghitung produksi, dan menunggu pasokan APP dari luar negeri. Arif sendiri mengajak publik berdoa agar pengujian berjalan lancar. Hasil di lapangan nanti akan menjawab seberapa jauh campuran ini layak dipakai.