Panda Bond menjadi langkah pemerintah untuk memperluas sumber pembiayaan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Strategi ini kembali menjadi sorotan ketika pergerakan rupiah berfluktuasi di tengah dinamika pasar keuangan global.
Pemerintah terus menyiapkan langkah untuk memperkuat ketahanan pembiayaan negara di tengah fluktuasi nilai tukar. Salah satu strategi yang kini menjadi perhatian ialah penerbitan Panda Bond atau surat utang pemerintah yang menggunakan denominasi yuan China.
Langkah tersebut tidak hanya bertujuan mencari alternatif pendanaan. Pemerintah juga ingin mengurangi risiko yang muncul akibat ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam pembiayaan utang negara.
Isu diversifikasi pembiayaan kembali mengemuka setelah rupiah mengalami pergerakan yang cukup dinamis pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Meski sempat melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS, mata uang Garuda akhirnya mampu ditutup menguat di level Rp17.905 per dolar AS.
Alasan Pemerintah Menyiapkan Panda Bond
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, mengatakan penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan pemerintah.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan sumber pendanaan yang lebih beragam agar risiko nilai tukar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat ditekan.
"Alasan penerbitan Panda Bond ya untuk mencari sumber pembiayaan yang lain atau dapat dikatakan diversifikasi. Jadi dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS,"
Herman menambahkan, China menjadi salah satu pasar yang menarik karena masih memiliki permintaan terhadap surat utang Indonesia dengan tingkat harga yang dinilai sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Local Currency Transaction Ikut Didorong
Selain Panda Bond, pemerintah juga menyiapkan skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai bagian dari strategi tersebut.
Melalui mekanisme LCT, transaksi dapat menggunakan mata uang lokal sehingga tidak selalu memerlukan konversi ke dolar AS. Dengan demikian, pemerintah berharap ketergantungan terhadap mata uang Amerika Serikat dapat berkurang.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan Panda Bond menjadi instrumen strategis dalam diversifikasi surat utang pemerintah.
Dinamika Pasar Global Masih Berpengaruh
Di sisi lain, pasar keuangan global masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,08% ke posisi 101,340. Sebelum mengalami koreksi, indeks tersebut sempat mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut.
Pelaku pasar juga masih memperhatikan data inflasi Amerika Serikat. Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index pada Mei 2026 naik 4,1% secara tahunan. Angka itu sesuai dengan perkiraan ekonom dan menunjukkan tekanan harga di AS masih bertahan, terutama setelah kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi sentimen global. Karena itu, upaya diversifikasi pembiayaan melalui Panda Bond dan pemanfaatan Local Currency Transaction menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mengelola risiko nilai tukar terhadap APBN.