Pemerintah memperluas stimulus ekonomi hingga Rp31 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat. Langkah ini diambil setelah pertumbuhan 5,47 persen di triwulan III 2026 masih menyisakan tekanan di kelompok menengah bawah.
Meskipun perekonomian nasional mencatat angka solid, beberapa indikator menunjukkan konsumsi rumah tangga mulai merasakan tekanan. Kontribusi konsumsi terhadap PDB turun menjadi 51,97 persen pada triwulan III 2026. Angka tersebut lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Stimulus fiskal diperluas hingga 2027 dengan total alokasi sekitar Rp31 triliun. Paket ini mencakup bantuan pangan, subsidi upah, relaksasi iuran jaminan sosial, serta program magang dan pelatihan vokasi.
"Akan kami dorong konsumsi dengan stimulus Rp31 triliun dan ini diharapkan daya beli masyarakat bisa kita jaga," ujar Airlangga di Jakarta.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan bahwa APBN tetap berfungsi sebagai peredam guncangan. Belanja perlindungan sosial dan pengendalian inflasi pangan menjadi instrumen utama menjaga daya beli.
Tekanan di Kelas Menengah Bawah Masih Terasa
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia mencatat daya beli kelompok menengah bawah mengalami tekanan lebih besar. Kenaikan harga pangan dan meningkatnya proporsi pekerja informal menjadi penyebab utama. Indeks Keyakinan Konsumen sempat turun sebelum menunjukkan perbaikan terbatas.
Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai dampak positif perbaikan ekspor terhadap konsumsi rumah tangga baru akan terasa optimal pada semester I 2027. Peningkatan penerimaan ekspor membutuhkan waktu untuk mengalir ke pendapatan masyarakat dan bonus pekerja.
Industri ritel modern juga waspada. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia memperkirakan pertumbuhan sektor ritel sepanjang 2026 terbatas di bawah 5 persen. Tekanan daya beli, terutama di segmen menengah bawah, masih membayangi.
Peran Hilirisasi dan Belanja Pemerintah
Di sisi lain, investasi hilirisasi sumber daya alam terus memberikan kontribusi positif. Nilai investasi di sektor tersebut tumbuh 19,4 persen pada triwulan III. Industri logam dasar dan kimia farmasi menjadi contoh nyata peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Belanja pemerintah yang tumbuh 8,95 persen membantu menahan pelemahan konsumsi swasta. Realisasi belanja hingga akhir 2026 ditargetkan mencapai Rp990 triliun. Akselerasi ini diharapkan menjaga momentum pertumbuhan di kuartal IV.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan beras 10 kilogram per bulan selama Oktober-Desember bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat. Subsidi upah sebesar Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan bagi 13,3 juta pekerja turut disiapkan dengan anggaran hampir Rp12 triliun.
Prospek Akhir Tahun dan 2027
Pemerintah tetap optimistis target pertumbuhan 5,4 persen sepanjang 2026 dapat tercapai. Indikator PMI manufaktur Oktober 2026 yang ekspansif di level 54,0 menjadi sinyal positif. Namun, ruang fiskal yang terbatas dan tantangan global tetap menjadi perhatian.
Analis Bank Permata memperkirakan pertumbuhan kuartal IV sedikit kehilangan momentum. Meski demikian, angka di atas 5 persen masih dapat dipertahankan. Proyeksi 2027 berada di kisaran 5,2 hingga 5,3 persen.
Koordinasi antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia terus diperkuat. Fokus utama tetap pada stabilitas harga pangan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta percepatan hilirisasi agar manfaat sumber daya alam lebih merata dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi yang solid perlu diiringi perbaikan daya beli yang lebih merata. Stimulus yang tepat sasaran dan penguatan industri berbasis sumber daya alam menjadi kunci agar manfaat pertumbuhan benar-benar sampai ke masyarakat luas hingga akhir 2026 dan memasuki 2027.