Pemerintah Kota Padang bersama TNI, Polri, dan instansi terkait menggelar apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Langkah ini diambil menjelang periode hujan intensitas tinggi pada November hingga Desember 2026.
Pemerintah Kota Padang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada musim penghujan 2026/2027. Langkah itu ditandai dengan apel gabungan di Lapangan Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Jumat, 6 November 2026.
Apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi melibatkan Pemerintah Kota Padang, Korem 032/Wirabraja, Polri, BPBD, dinas teknis, serta unsur masyarakat. Kegiatan ini menegaskan bahwa penanganan bencana tidak dapat bergantung pada satu lembaga saja.
Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan bahwa November dan Desember menjadi periode yang perlu diwaspadai. Ia menilai peningkatan curah hujan berpotensi memicu banjir, genangan, serta tanah longsor di sejumlah wilayah rawan.
“Alhamdulillah, sejumlah pekerjaan besar untuk penanganan bencana di Kota Padang sudah berjalan. Namun, sinergi seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat mengingat kondisi cuaca yang perlu diwaspadai demi melindungi masyarakat saat bencana terjadi,” ujar Fadly Amran.
Posko Terpadu Siap Dikerahkan
Salah satu langkah utama yang disiapkan adalah pembentukan posko terpadu penanggulangan bencana. Posko ini akan menjadi pusat koordinasi antara pemerintah kota, TNI, Polri, BPBD, dan instansi vertikal saat kondisi darurat terjadi.
Koordinasi terpadu dimaksudkan agar penyaluran informasi, pengerahan personel, evakuasi, hingga bantuan bagi warga terdampak berjalan cepat dan tepat sasaran. Pemerintah Kota Padang juga menekankan pentingnya edukasi evakuasi kepada masyarakat.
Komandan Korem 032/Wirabraja Brigjen TNI Aji Mimbarno menyatakan setiap satuan dipersiapkan untuk mensiagakan minimal 30 personel siap gerak. Kesiapan tersebut mencakup peralatan evakuasi, termasuk perahu karet dan perlengkapan penanganan banjir.
“Untuk mengantisipasi ancaman spesifik seperti banjir dan luapan sungai yang kerap menerjang berbagai wilayah di Sumbar, penguatan armada seperti perahu karet dan perlengkapan evakuasi air dipastikan berada dalam status siaga penuh,” ungkap Aji Mimbarno.
Padang Fokus pada Kawasan Rawan
Perhatian utama Pemerintah Kota Padang diarahkan pada daerah aliran sungai (DAS). Kawasan Kuranji dan Lubuk Minturun menjadi salah satu titik prioritas karena berpotensi terdampak ketika curah hujan meningkat.
Padang memiliki karakter geografis yang dikelilingi perbukitan dan dialiri sejumlah sungai. Kondisi tersebut membuat pengelolaan daerah hulu, sedimentasi sungai, serta drainase perkotaan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko banjir.
BPBD Kota Padang sebelumnya mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi hujan sedang hingga lebat. Imbauan itu juga mencakup pemantauan informasi cuaca resmi dan penjagaan saluran drainase di lingkungan masing-masing.
Kepala BPBD Kota Padang Hendri Zulviton meminta warga di kawasan rawan banjir untuk tidak menunggu sepenuhnya pada penanganan pemerintah. Ia menekankan pentingnya antisipasi mandiri, terutama dalam menjaga saluran air agar tidak tersumbat.
Kolaborasi Jadi Kunci
Apel kesiapsiagaan ini tidak hanya menampilkan kesiapan personel dan alat. Kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana harus dimulai dari tingkat keluarga, lingkungan, hingga kebijakan pembangunan kota.
Pemerintah Kota Padang menilai keterlibatan Kelompok Siaga Bencana, TNI, Polri, sektor swasta, dan masyarakat sebagai kunci pembentukan kota tangguh bencana. Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat respons ketika peringatan dini dikeluarkan.
Warga Padang diimbau memantau informasi resmi dari BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah. Mereka juga disarankan menyiapkan kebutuhan darurat, mengetahui jalur evakuasi, serta menghindari aktivitas berisiko saat hujan deras atau sungai meluap.
Dengan penguatan koordinasi, kesiapan personel, dan partisipasi warga, Pemerintah Kota Padang berupaya menekan dampak bencana hidrometeorologi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat menjelang puncak musim hujan.