Daerah

Respons Bupati Purwakarta soal Lagu Kontroversial, Akui Karya Lama dan Minta Maaf

Respons Bupati Purwakarta atas lagu kontroversial menegaskan karya itu merupakan refleksi pribadi sejak 2020. Atalia Praratya sebelumnya mengkritik lirik lagu tersebut.
Respons Bupati Purwakarta atas lagu kontroversial menegaskan karya itu merupakan refleksi pribadi sejak 2020. Atalia Praratya sebelumnya mengkritik lirik lagu tersebut.

Respons Bupati Purwakarta terhadap polemik lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" menegaskan karya tersebut merupakan refleksi pribadi sejak 2020, bukan ditujukan untuk merendahkan perempuan.

Respons Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menjadi perhatian setelah lagunya berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat menuai kritik dari Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya.

Saepul menegaskan lagu tersebut tidak memiliki tujuan menyudutkan perempuan maupun kelompok tertentu. Menurutnya, karya itu lahir dari pengalaman hidup dan proses perenungan pribadi.

Lagu Disebut Berasal dari Refleksi Diri

Saepul menjelaskan puisi sekaligus lagu tersebut telah ditulis sejak 2020.

Dalam praktiknya, karya itu menggambarkan penilaiannya terhadap perilaku dirinya sendiri pada masa lalu, bukan menggambarkan perempuan atau pihak lain.

Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” katanya.

Ia memandang lirik lagu tersebut sebagai bentuk kejujuran mengenai ketidaksempurnaan dirinya sekaligus sarana kontemplasi spiritual dan emosional.

Permohonan Maaf Disampaikan kepada Pihak yang Merasa Terganggu

Meski mempertahankan penjelasannya, Saepul tetap menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul.

Ia memahami terdapat pihak yang merasa kurang nyaman setelah membaca maupun mendengar isi lirik lagu tersebut.

Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” ujarnya.

Kritik Atalia Praratya Jadi Sorotan

Atalia Praratya.webp (45 KB)
Anggota DPR RI, Atalia Praratya

Sementara itu, Atalia Praratya menilai lagu tersebut menghadirkan narasi yang merendahkan perempuan.

Ia menganggap karya seorang kepala daerah semestinya mencerminkan penghormatan terhadap perempuan dan tidak memperkuat budaya patriarki.

Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?,” kata Atalia.

Selain itu, Atalia menyebut dirinya tidak menemukan bagian lirik yang dapat dimaknai sebagai penghormatan terhadap perempuan.

Nilai Budaya Sunda Ikut Disinggung

Menurut Atalia, budaya Sunda selama ini mengedepankan nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.

Karena itu, ia mempertanyakan pilihan kata dalam lagu tersebut yang dinilai dapat dimaknai merendahkan perempuan.

Saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” katanya.