Teknologi mesin self-loading membantu relawan membangun 126 rumah layak huni di 88 kabupaten dan kota dengan waktu pengerjaan dua hingga tiga minggu.
Teknologi mesin self-loading menjadi kunci percepatan pembangunan rumah dalam program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni.
Program tersebut digagas keluarga besar Thoriqoh Shiddiqiyyah melalui DHIBRA dan OPSHID FKYME. Para relawan menggunakan teknologi konstruksi untuk mempercepat kegiatan sosial tanpa mengejar keuntungan finansial.
Dalam praktiknya, satu rumah tipe 36 dapat berdiri dalam waktu dua sampai tiga minggu. Perhitungannya dimulai dari peletakan batu pertama hingga serah kunci.
Mesin Self-Loading Percepat Pengecoran Rumah
Mesin pengaduk beton self-loading memiliki kemampuan memuat pasir dan semen secara mandiri. Setelah itu, mesin menimbang, mengaduk, lalu menuangkan beton langsung di lokasi.
Kapasitas alat tersebut diklaim mencapai 14 hingga 24 meter kubik per jam. Karena itu, relawan dapat memproduksi beton tanpa bergantung pada fasilitas pencampuran permanen.
Selain itu, mesin dapat bergerak menuju titik pembangunan. Relawan tidak perlu mengandalkan batching plant, loader, maupun truk mixer untuk setiap proses pengecoran.
Beton Langsung Diproduksi di Lokasi
Dalam pengerjaan rumah, beton digunakan untuk fondasi, sloof, dan kolom. Relawan memanfaatkan pagi hari untuk proses pengecoran.
Sementara itu, pekerjaan pemasangan bata dan atap berlangsung pada siang hari. Pola kerja tersebut membuat pembangunan tetap berjalan meski tenaga yang terlibat merupakan relawan.
Di sisi lain, penggunaan mesin juga membantu pembangunan di lahan sempit, jalan rusak, atau wilayah yang jauh dari kota.
126 Rumah Dibangun di 88 Daerah
Tahun ini, program RSKILHS menargetkan pembangunan 126 unit rumah. Rumah tersebut tersebar di 88 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Peletakan batu pertama dimulai pada 22 Juni 2026. Program menargetkan seluruh pembangunan rampung menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Di Lampung, DHIBRA Shiddiqiyyah membangun 12 unit rumah bagi warga setempat.
Yang menarik, program tersebut menggunakan pendanaan swadaya. Bagus Harianto, Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Jombang, menyebut anggaran satu unit sekitar Rp120 juta.
Dana tersebut berasal dari sedekah pribadi anggota. Bentuk dukungan mencakup uang tunai, material, serta berbagai kebutuhan pembangunan lainnya.
Penerima manfaat umumnya warga yang menempati rumah tidak layak huni. Salah satunya Ibu Putiah, 71 tahun, warga Desa Madi, Kecamatan Kudu.
Ia merupakan lansia yang selama ini mengasuh cucu-cucunya di rumah dengan kondisi yang tidak layak.
Dengan demikian, mesin yang dapat berpindah ke lokasi berikutnya membantu relawan menjaga ritme pembangunan. Program juga tidak menunggu proposal pemerintah untuk menentukan pelaksanaan di setiap daerah.