Kesehatan

Hipertensi Usia Muda Dipicu Genetik dan Stres Kerja

Hipertensi usia muda dipengaruhi genetik dan gaya hidup. dr. Tirta menyoroti stres kerja, kurang tidur, rokok, dan pola makan.
Hipertensi usia muda dipengaruhi genetik dan gaya hidup. dr. Tirta menyoroti stres kerja, kurang tidur, rokok, dan pola makan.

Hipertensi usia muda semakin sering menjadi perhatian karena faktor genetik dan tekanan hidup dapat meningkatkan risiko gangguan tekanan darah.

Hipertensi usia muda dapat berkaitan dengan faktor keturunan dan gaya hidup. dr. Tirta Mandira Hudhi menjelaskan sejumlah pemicunya.

Dokter sekaligus influencer kesehatan itu menyampaikan penjelasan tersebut melalui unggahan video di Instagram. Menurutnya, riwayat keluarga menjadi faktor penting.

Karena itu, ia meminta masyarakat memperhatikan rekam medis keluarga. Pemeriksaan berkala juga penting ketika keluarga memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke.

Hipertensi Usia Muda Berkaitan dengan Genetik

Secara faktual, dr. Tirta menempatkan faktor genetik sebagai salah satu pemicu utama hipertensi pada usia muda.

Ia menyoroti riwayat orang tua, saudara, hingga kakek dan nenek. Riwayat kematian mendadak akibat penyakit jantung atau stroke juga perlu menjadi perhatian.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi alasan seseorang lebih waspada. Dengan begitu, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara berkala.

Stres Kerja Ikut Meningkatkan Risiko

Sementara itu, gaya hidup menjadi faktor lain yang disorot dr. Tirta. Tekanan psikologis dapat muncul sejak masa sekolah dan berlanjut ketika seseorang bekerja.

Di lapangan, tuntutan belajar, pekerjaan, lembur, dan tekanan sosial dapat menumpuk. Kondisi tersebut menurut dr. Tirta dapat meningkatkan stres.

Ia menjelaskan, stres berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol. Karena itu, tekanan psikologis yang terus meningkat dapat memperbesar risiko hipertensi.

Pola Tidur dan Kebiasaan Merokok Jadi Sorotan

Tak hanya itu, dr. Tirta menyoroti pola tidur yang berantakan dan minim aktivitas fisik. Pola makan tinggi karbohidrat juga masuk dalam faktor yang ia sebut.

Selain itu, kebiasaan merokok menjadi perhatian. Ia juga menyinggung kombinasi rokok dan kopi yang dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis.

Yang patut dicatat, dr. Tirta mengingatkan pentingnya memantau angka sistolik dan diastolik. Ia menyebut tekanan darah normal berada di kisaran 120/80 mmHg.

Menurut penjelasannya, angka sistolik 140 mmHg atau lebih masuk kategori hipertensi tahap pertama. Karena itu, ia mendorong perubahan gaya hidup.

  • Memantau tekanan darah secara berkala.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menjaga pola tidur tetap teratur.
  • Mengurangi tekanan dan stres kerja.