Internasinal

Tragedi Pramuka Filipina 1963, 24 Delegasi Tewas Menuju Jambore Dunia

Tragedi Pramuka Filipina pada 1963 menewaskan 24 delegasi yang hendak menghadiri Jambore Pramuka Dunia di Yunani. Pesawat jatuh di Laut Arab saat mendekati Bombay
Tragedi Pramuka Filipina pada 1963 menewaskan 24 delegasi yang hendak menghadiri Jambore Pramuka Dunia di Yunani. Pesawat jatuh di Laut Arab saat mendekati Bombay

Tragedi Pramuka Filipina menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Jambore Pramuka Dunia. Sebanyak 24 delegasi Filipina meninggal dunia setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Laut Arab saat menuju Yunani pada 1963.

Tragedi Pramuka Filipina terjadi pada 28 Juli 1963 ketika rombongan peserta Jambore Pramuka Dunia ke-11 dalam perjalanan menuju Marathon, Yunani. Kecelakaan pesawat tersebut menewaskan seluruh penumpang dan awak, termasuk 24 anggota kontingen Filipina yang dijadwalkan mengikuti kegiatan kepanduan internasional.

Berdasarkan catatan The Kahimyang Project, korban dari Filipina terdiri atas 21 anggota pramuka berusia 14 hingga 19 tahun serta tiga pendamping dewasa. Mereka berangkat dari Manila pada 27 Juli 1963 sebelum melanjutkan penerbangan dari Hong Kong menuju Athena menggunakan United Arab Airlines Flight 869.

Pesawat de Havilland Comet 4C yang mereka tumpangi membawa total 55 penumpang dan delapan awak. Saat mendekati Bandara Santa Cruz di Bombay, India, sekitar pukul 01.50 waktu setempat, pesawat menghadapi cuaca buruk yang disertai hujan lebat dan turbulensi.

Pesawat Jatuh di Laut Arab saat Mendekati Bombay

Dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat, kru berupaya melakukan manuver ketika pesawat mendekati kawasan pendaratan. Namun, pesawat kemudian kehilangan kendali sebelum akhirnya jatuh di Laut Arab, sekitar sembilan mil laut dari Madh Island.

Seluruh 63 orang di dalam pesawat meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Peristiwa itu menjadi salah satu kecelakaan penerbangan yang dikenang dalam sejarah perjalanan kontingen Pramuka Filipina menuju Jambore Dunia.

Penyelidikan menyebut pesawat kemungkinan kehilangan kendali ketika berbelok di tengah turbulensi dan hujan deras. Meski begitu, penyebab pasti kecelakaan tidak dapat dipastikan karena bangkai pesawat tidak berhasil dievakuasi dan kru sebelumnya tidak melaporkan adanya gangguan teknis.

Jambore Dunia Berduka atas Musibah Kontingen Filipina

Kabar kecelakaan tersebut mengguncang pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia ke-11 di Marathon, Yunani, yang saat itu diikuti sekitar 14.000 pramuka dari 89 negara.

Sebagai bentuk penghormatan kepada para korban, seluruh bendera di lokasi jambore dikibarkan setengah tiang. Selain itu, area perkemahan yang semula disiapkan untuk kontingen Filipina sengaja dibiarkan kosong selama kegiatan berlangsung.

Identifikasi Korban Mengalami Kendala

Tim pencarian berhasil menemukan sejumlah jasad di Teluk Bombay. Namun, proses identifikasi menghadapi kesulitan sehingga hanya lima korban yang dapat dikenali secara positif.

Tragedi tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah keikutsertaan Pramuka Filipina di Jambore Dunia sekaligus menjadi bagian dari catatan sejarah penerbangan internasional pada 1963.