Reog Bulkiyo menjadi warisan budaya khas Kabupaten Blitar yang memiliki sejarah, bentuk pertunjukan, dan filosofi berbeda dari Reog Ponorogo. Meski sama-sama menggunakan nama Reog, keduanya berkembang dengan identitas budaya masing-masing.
Reog Bulkiyo merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Selama ini, nama Reog lebih dikenal sebagai ikon budaya Kabupaten Ponorogo. Namun, Blitar juga memiliki kesenian Reog dengan karakter, sejarah, dan pertunjukan yang berbeda.
Penelitian Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyebut Reog Bulkiyo berkembang sebagai bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Blitar. Kesenian tersebut tetap dilestarikan hingga kini dan rutin dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya di daerah.
Berbeda dengan Reog Ponorogo yang identik dengan dadak merak dan Singo Barong, Reog Bulkiyo menampilkan atraksi bertema keprajuritan. Gerakan para penarinya menggambarkan suasana peperangan yang dipadukan dengan iringan musik tradisional.
Sejarah Reog Bulkiyo Berawal dari Perang Jawa
Berdasarkan penelitian ISI Surakarta, Reog Bulkiyo diperkirakan lahir pada masa Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 hingga 1830. Kesenian ini diyakini diciptakan oleh para prajurit Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke Desa Kemloko setelah peperangan.
Pada masa itu, Reog Bulkiyo tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat. Pertunjukan juga menjadi media latihan kemampuan bertempur bagi para prajurit sambil menunggu kelanjutan perjuangan melawan pasukan kolonial Belanda.
Seiring waktu, fungsi tersebut berubah mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat. Kini Reog Bulkiyo lebih sering hadir dalam acara adat, peringatan hari besar, hingga festival budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya lokal.
5 Perbedaan Reog Bulkiyo dan Reog Ponorogo
Karakter Pertunjukan dan Identitas Budaya
- Asal daerah. Reog Bulkiyo berasal dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sementara Reog Ponorogo berasal dari Kabupaten Ponorogo.
- Latar belakang cerita. Reog Bulkiyo mengangkat kisah perjuangan prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa. Sebaliknya, Reog Ponorogo mengusung cerita rakyat Ki Ageng Kutu, Klono Sewandono, Singo Barong, dan Dewi Songgolangit.
- Penggunaan dadak merak. Reog Bulkiyo tidak memakai dadak merak maupun barongan. Reog Ponorogo justru menjadikan Singo Barong dengan hiasan dadak merak sebagai ikon utama pertunjukan.
- Kostum penari. Penari Reog Bulkiyo mengenakan busana prajurit perang sesuai tema perjuangan. Adapun Reog Ponorogo menghadirkan tokoh Warok, Jathil, Klono Sewandono, Bujang Ganong, dan Singo Barong.
- Iringan musik. Reog Bulkiyo menggunakan kecer sebagai pembuka irama yang dipadukan rebana, sronen, kenong, dan kempul. Karakter musikalnya berbeda dengan iringan yang digunakan dalam pertunjukan Reog Ponorogo.
Meski memiliki nama yang sama, kedua kesenian tersebut berkembang dari sejarah, filosofi, dan bentuk pertunjukan yang berbeda. Keberadaan Reog Bulkiyo menambah kekayaan seni tradisional Jawa Timur sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Kabupaten Blitar.