Kesehatan

dr. Tirta: Stres Kerja dan Rokok Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi

Hipertensi anak muda disorot dr. Tirta. Stres kerja, rokok, kurang tidur, minim olahraga, dan faktor genetik menjadi perhatian.
Hipertensi anak muda disorot dr. Tirta. Stres kerja, rokok, kurang tidur, minim olahraga, dan faktor genetik menjadi perhatian.

dr. Tirta Mandira Hudhi menyebut stres kerja, kebiasaan merokok, tidur tidak teratur, kurang olahraga, dan faktor genetik dapat memengaruhi risiko hipertensi pada anak muda. Penjelasan itu ia sampaikan dalam video yang diunggah di Instagram.

Dalam video tersebut, dr. Tirta menguraikan kebiasaan yang menurutnya sering muncul sejak masa sekolah hingga dunia kerja dan dapat memperbesar risiko tekanan darah tinggi.

Menurutnya, tekanan psikologis yang terus menumpuk dapat meningkatkan hormon kortisol. Kondisi tersebut, kata dia, berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi.

Tekanan Psikologis Berlanjut dari Sekolah ke Dunia Kerja

Menurut dr. Tirta, tekanan pada anak muda tidak berhenti setelah masa sekolah. Beban belajar dapat berlanjut menjadi tekanan pekerjaan.

Ia menyebut tuntutan lembur dan tekanan sosial dapat memperbesar beban psikologis. Menurutnya, kondisi tersebut turut membentuk gaya hidup yang penuh tekanan.

Dalam konteks itu, dr. Tirta mengaitkan peningkatan stres dengan kenaikan kortisol yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Rokok dan Kopi Ikut Disorot

dr. Tirta juga menyebut tidur tidak teratur, kurang olahraga, dan konsumsi karbohidrat berlebih sebagai kebiasaan harian yang perlu diperhatikan.

Selain itu, ia menekankan kebiasaan merokok. Kombinasi rokok dan kopi, menurutnya, dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis.

Akibatnya, tekanan darah pada anak muda dapat berada di atas rata-rata, kata dr. Tirta. Karena itu, ia menilai perubahan kebiasaan sehari-hari penting untuk pencegahan.

Riwayat Keluarga Tetap Perlu Diperhatikan

Meski begitu, gaya hidup bukan satu-satunya faktor. dr. Tirta juga menempatkan genetik sebagai faktor penting dalam risiko penyakit kardiovaskular.

Ia meminta masyarakat melihat riwayat kesehatan orang tua, saudara, serta kakek dan nenek. Riwayat jantung dan stroke, menurutnya, perlu menjadi pertimbangan saat menentukan kebutuhan pemeriksaan.

dr. Tirta menyarankan masyarakat memantau tekanan darah. Ia menyebut angka 120/80 mmHg sebagai kisaran tekanan darah normal.

Ia juga menyebut sistolik 140 mmHg atau lebih sebagai hipertensi tahap pertama. Menurutnya, pemantauan angka sistolik dan diastolik perlu dilakukan.

dr. Tirta turut mendorong perubahan gaya hidup menyeluruh. Ia menyarankan olahraga rutin, tidur teratur, dan pengurangan stres kerja.

  • Kurangi tekanan psikologis dan stres kerja.
  • Atur waktu tidur agar lebih teratur.
  • Tingkatkan aktivitas fisik melalui olahraga.
  • Kurangi kebiasaan merokok dan kombinasi rokok dengan kopi.

Secara keseluruhan, dr. Tirta menempatkan faktor genetik dan gaya hidup sebagai dua hal utama dalam penjelasannya mengenai hipertensi pada usia muda.