Internasinal

Batu Bara Jadi Andalan Asia Saat Pasokan Gas Terganggu

Batu bara Asia kembali menjadi andalan setelah pasokan gas terganggu akibat konflik Iran. Jepang, Korea Selatan, Bangladesh hingga Pakistan meningkatkan pembangkit batu bara.
Batu bara Asia kembali menjadi andalan setelah pasokan gas terganggu akibat konflik Iran. Jepang, Korea Selatan, Bangladesh hingga Pakistan meningkatkan pembangkit batu bara.

Batu bara Asia kembali menjadi andalan pembangkit listrik setelah gangguan pasokan gas akibat konflik Timur Tengah menekan sejumlah negara.

Batu bara Asia kembali mendapat peran penting setelah gangguan pasokan minyak dan gas mengubah strategi energi sejumlah negara. Konflik AS-Israel dengan Iran membuat pasokan energi melalui Selat Hormuz terganggu.

Situasi tersebut memaksa negara-negara yang bergantung pada impor energi mencari sumber alternatif. Batu bara kemudian menjadi pilihan untuk menjaga pasokan listrik ketika ketersediaan gas menurun.

Sementara itu, dampak gangguan energi paling terasa di Asia. Kawasan tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Jepang dan Korea Selatan Ubah Kebijakan Batu Bara

Jepang merespons tekanan energi dengan melonggarkan pembatasan terhadap pembangkit batu bara lama. Pembangkit tersebut sebelumnya menghadapi aturan karena menghasilkan emisi tinggi.

Di sisi lain, Korea Selatan menunda penutupan sejumlah pembangkit batu bara. Pemerintah sebelumnya menjadwalkan penghentian bertahap fasilitas tersebut hingga 2040.

Langkah kedua negara menunjukkan perubahan kebijakan ketika keamanan pasokan energi menghadapi tekanan. Batu bara kembali mendapat ruang sebagai sumber listrik yang tersedia.

Negara Asia Tingkatkan Pembangkitan Batu Bara

Tak hanya Jepang dan Korea Selatan, Bangladesh juga meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara. Sebelumnya, negara itu menghadapi pemadaman listrik dan pembatasan penjualan bahan bakar kendaraan.

Setelah itu, pemerintah Bangladesh meningkatkan penggunaan pembangkit batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik. Thailand, Filipina, dan Vietnam juga mengambil langkah serupa.

Ketiga negara tersebut meningkatkan pembangkitan berbasis batu bara untuk menjaga cadangan gas yang semakin menipis.

Pakistan mencatat kenaikan yang lebih tajam. Berdasarkan data National Electric Power Regulatory Authority, listrik dari batu bara impor hingga Juli 2026 meningkat 90 persen secara tahunan.

Gangguan Hormuz Tekan Pasokan Energi Asia

Secara faktual, Selat Hormuz menjadi titik penting dalam gangguan pasokan tersebut. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut.

Data EIA menunjukkan sekitar 82 persen pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz pada 2022 menuju Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama.

Akibatnya, penutupan selat mengurangi pasokan energi ke pasar global. Harga minyak melonjak dan negara importir harus mencari sumber energi alternatif.

Selain itu, sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk turut terkena serangan. Qatar bahkan menyatakan force majeure atas kontrak pengiriman LNG setelah fasilitas Ras Laffan terkena serangan pesawat nirawak Iran.

Gangguan tersebut membuat 17 persen ekspor LNG Qatar terdampak pada Maret 2026. Kondisi itu semakin memperkuat tekanan terhadap negara-negara Asia yang membutuhkan pasokan gas.

Yang menarik, batu bara menjadi pilihan karena harganya masih lebih rendah dibandingkan minyak. Pasokannya juga relatif tersedia untuk menggantikan sebagian kebutuhan pembangkit berbahan bakar gas.