Internasinal

Perang Iran Ganggu Transisi Energi, Batu Bara Kembali Dipakai

Transisi energi global terganggu perang Iran setelah sejumlah negara kembali memakai batu bara. Krisis pasokan juga mendorong investasi energi bersih.
Transisi energi global terganggu perang Iran setelah sejumlah negara kembali memakai batu bara. Krisis pasokan juga mendorong investasi energi bersih.

Transisi energi global menghadapi tekanan setelah perang Iran mendorong sejumlah negara kembali memakai batu bara untuk menjaga pasokan listrik.

Transisi energi global menghadapi tantangan baru akibat perang AS-Israel dengan Iran. Gangguan pasokan minyak dan gas membuat sejumlah negara kembali mengandalkan batu bara.

Konflik yang dimulai setelah serangan ke Tehran pada 28 Februari 2026 turut mengganggu rantai pasok energi. Penutupan Selat Hormuz kemudian memperbesar tekanan terhadap pasar minyak dan gas.

Dalam kondisi tersebut, batu bara kembali menjadi pilihan untuk menjaga pembangkit listrik. Padahal, sejumlah negara sebelumnya telah berkomitmen mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Transisi Energi Global Tertekan Krisis Energi

Situasi ini menciptakan paradoks dalam transisi energi global. Batu bara menjadi salah satu sumber energi dengan emisi karbon tinggi, tetapi tetap tersedia ketika pasokan gas terganggu.

Menurut analis transisi energi Nick Hedley, banyak negara belum memiliki kapasitas energi terbarukan yang cukup untuk menggantikan gas saat terjadi gangguan pasokan.

Karena itu, negara seperti Bangladesh lebih mudah meningkatkan penggunaan batu bara. Negara tersebut sebelumnya telah membangun infrastruktur batu bara dalam jumlah besar.

Selain itu, kenaikan harga gas impor membuat batu bara terlihat lebih murah. Namun, Hedley menilai batu bara tetap tidak mampu menandingi energi terbarukan dari sisi biaya.

Komitmen Pengurangan Batu Bara Menghadapi Tekanan

Pada 2021, lebih dari 40 negara berkomitmen mengurangi penggunaan batu bara melalui COP26. Indonesia dan Vietnam termasuk negara yang ikut dalam komitmen tersebut.

Namun, China dan India tidak ikut menandatangani komitmen itu. Keduanya tetap menjadi konsumen batu bara terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 70 persen konsumsi global.

Di sisi lain, Korea Selatan kemudian bergabung dengan Powering Past Coal Alliance. Aliansi tersebut membantu negara yang bergantung pada batu bara menjalankan transisi energi.

Krisis Energi Dorong Investasi Energi Bersih

Meski penggunaan batu bara meningkat, krisis energi tidak otomatis menghentikan transisi energi global. Gangguan rantai pasok justru dapat mendorong negara memperkuat investasi energi bersih.

Hedley menilai gangguan pasokan energi fosil dapat membuat energi bersih semakin kompetitif. Kondisi tersebut juga mendorong negara mencari sistem energi yang lebih tahan terhadap krisis global.

Sementara itu, China tetap meningkatkan investasi energi terbarukan meski produksi batu bara domestiknya menurun pada 2026.

Penurunan produksi tersebut terjadi setelah pemerintah memperketat pengawasan menyusul ledakan tambang Liushenyu pada Mei 2026. Insiden itu menewaskan 82 orang.

Di Eropa, Jerman menyatakan tidak akan mempertaruhkan pembangkitan listrik demi memenuhi komitmen iklim. Italia bahkan mendorong rencana penghentian batu bara dari akhir 2025 menjadi 2038.

Yang patut dicatat, perkembangan tersebut menunjukkan ketergantungan energi fosil masih kuat ketika terjadi krisis pasokan. Namun, tekanan yang sama juga dapat mempercepat pencarian sumber energi bersih sebagai alternatif jangka panjang.

Hedley menilai negara-negara Asia perlu mempercepat peralihan menuju energi bersih dan elektrifikasi untuk mengurangi risiko dari krisis energi global berikutnya.