Wamentan Muhammad Saleh Mustafa menyatakan stok beras nasional mencapai 4,5 juta ton dan cukup untuk 10 bulan. Namun, harga beras masih naik dan inflasi akhir tahun tetap mengintai, sementara BPS merilis data Oktober pada 2 November.
Pernyataan itu keluar dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-III di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Saleh membandingkan Indonesia dengan Inggris, yang meluncurkan kampanye “Be Ready” agar warga menyiapkan pangan pribadi untuk tiga hari.
Stok Beras Nasional 4,5 Juta Ton: Seaman Apa?
Saleh yakin kondisi pangan dalam negeri jauh lebih kuat. “Kita jangankan 3 hari, kita punya cadangan beras selama 10 bulan ke depan,” ujarnya. Klaim itu perlu dibaca teliti, karena angka 10 bulan merujuk pada ketersediaan beras nasional secara keseluruhan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menghitung ketersediaan nasional sekitar 25 juta ton. Dengan konsumsi sekitar 2,5 juta ton per bulan, pasokan itu cukup hingga Juli–Agustus 2027. Angka tersebut mencakup stok Bulog, padi yang masih berdiri di lahan, serta persediaan di masyarakat dan sektor usaha.
Hitungan sederhana memberi gambaran lebih sempit. Stok Bulog 4,5 juta ton setara kurang dari dua bulan konsumsi nasional. Artinya, ketahanan 10 bulan itu bergantung pada panen berikutnya dan stok di tangan masyarakat.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan stok yang dikelola Bulog masih memadai. “Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru,” katanya. Penyaluran cadangan beras pemerintah sepanjang 2026 mencapai 2,84 juta ton hingga 20 Oktober.
Harga Beras Masih Naik Meski Gudang Terisi
Gudang penuh belum otomatis membuat harga turun. BPS mencatat harga rata-rata nasional beras medium Rp14.677 per kilogram pada pekan keempat Oktober 2026. Angka itu naik 0,16 persen dari pekan sebelumnya. Sejumlah wilayah bahkan mencatat harga di atas harga eceran tertinggi (HET).
Pemerintah menjawab tekanan itu lewat distribusi. Bulog menyiapkan tambahan 1 juta ton beras lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini menjual beras murah untuk menahan harga di pasar. Penyalurannya melalui pasar rakyat, Gerakan Pangan Murah, dan jaringan ritel.
Di sisi lain, bantuan pangan beras periode Oktober–Desember menyasar 33,2 juta penerima. Mereka berasal dari kelompok desil 1 sampai 4, yaitu rumah tangga berpendapatan rendah.
Inflasi Oktober 2026 dan Bayang-Bayang El Niño
BPS akan mengumumkan inflasi Oktober 2026 pada Senin (2/11/2026). Konsensus pasar versi CNBC Indonesia memperkirakan inflasi tahunan (year-on-year) 3,25 persen. Proyeksi inflasi bulanan (month-to-month) berada di kisaran 0,22–0,24 persen.
Sebagai pembanding, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan dan 0,30 persen secara bulanan. Angka itu masih dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen, tetapi mendekati batas atas 3,5 persen.
Pangan menjadi pendorong utama. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat inflasi volatile food, yakni harga pangan yang mudah bergejolak, naik menjadi 5,03 persen yoy dari 4,06 persen. Daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi memicu kenaikan itu.
Kemarau panjang akibat El Niño, yaitu pemanasan suhu laut Pasifik yang mengurangi hujan di Indonesia, ikut menekan produksi. DEN memperkirakan potensi produksi beras September–November 2026 turun 12 persen secara tahunan, sekitar 1 juta ton.
BPS juga meminta pemerintah waspada. Direktur Statistik Harga BPS Sarpono menjelaskan pola historisnya: inflasi November biasanya melampaui Oktober, lalu Desember melampaui November. Inflasi tahun kalender Januari–September 2026 sudah mencapai 2,17 persen.
Lonjakan konsumsi saat Natal dan Tahun Baru biasanya mendorong permintaan pangan. Karena itu, kelancaran distribusi beras dan komoditas lain akan ikut menentukan arah inflasi hingga Desember.
Angka yang Perlu Dicek Sebelum Dibagikan
Biar tidak salah kutip, ini empat angka kunci per 1 November 2026:
- Stok Bulog: sekitar 4,5 juta ton, bukan total stok seluruh Indonesia.
- Ketahanan 10 bulan: hitungan ketersediaan nasional sekitar 25 juta ton.
- Harga beras medium: Rp14.677 per kilogram, data BPS pekan keempat Oktober.
- Inflasi Oktober: baru proyeksi 3,25 persen yoy sampai BPS merilis data resmi.
Singkatnya, stok beras nasional memang kuat, tetapi harga di pasar yang menentukan inflasi. Rilis BPS pada 2 November akan menunjukkan apakah distribusi SPHP sudah meredam tekanan harga. Data dalam artikel ini diperbarui per 1 November 2026 dan bersumber dari BPS, Bapanas, Bulog, Dewan Ekonomi Nasional, serta pernyataan Kementerian Pertanian.