SDN Setono Ponorogo ditutup mulai tahun ajaran 2026/2027 setelah tiga tahun tidak menerima murid baru, sementara enam siswa dipindahkan ke dua sekolah.
SDN Setono Ponorogo resmi ditutup mulai tahun ajaran 2026/2027. Sekolah dasar negeri di Kelurahan Setono itu tidak menerima murid baru selama tiga tahun terakhir.
Penutupan tersebut membuat enam siswa yang masih bersekolah harus pindah. Dinas Pendidikan Ponorogo menempatkan mereka di dua sekolah berbeda.
Plt Kabid Pembinaan SD Dindik Ponorogo Rakhma Noor Meyta mengatakan dua siswa pindah ke SDN 1 Japan. Sementara empat siswa lainnya masuk SDN 1 Singosaren.
SDN Setono Ponorogo Kehabisan Murid Baru
Sebelum ditutup, SDN Setono masih memiliki 16 siswa. Sebanyak 10 siswa lulus pada tahun ini sehingga tersisa enam anak.
Namun, sekolah tersebut tidak memperoleh murid baru selama tiga tahun berturut-turut. Kondisi itu menjadi pertimbangan utama dalam proses penutupan.
Menurut Meyta, pengajuan penutupan SDN Setono sudah berlangsung sejak 2025. Pemerintah kemudian menggelar sejumlah rapat bersama pihak terkait.
Dalam proses tersebut, wali murid, komite sekolah, masyarakat, lurah, camat, serta pengawas sekolah ikut terlibat.
“Penutupan sekolah tersebut merupakan hasil pengajuan dan kesepakatan bersama wali murid, komite sekolah, serta masyarakat,” ujar Meyta, Jumat (21/8/2026).
Sekolah Dasar Negeri Satu-satunya di Kelurahan Setono
Di sisi lain, penutupan SDN Setono disayangkan Plt Lurah Setono Handry Reza Pratama. Sekolah tersebut merupakan satu-satunya SD negeri di wilayah kelurahan itu.
Handry mengatakan pihak kelurahan sebelumnya berulang kali melakukan sosialisasi kepada warga. Langkah tersebut bertujuan mendorong orangtua menyekolahkan anaknya di SDN Setono.
Namun, keputusan memilih sekolah tetap berada di tangan masing-masing orangtua. Dalam praktiknya, jumlah pendaftar terus menurun selama beberapa tahun.
Yang jadi sorotan, sebagian calon siswa sempat mendaftar tetapi kemudian pindah. Kondisi itu terjadi karena mereka tidak memiliki teman sekelas.
Handry juga menduga sebagian orangtua memilih sekolah lain yang dianggap lebih favorit. Kondisi tersebut semakin memengaruhi jumlah siswa SDN Setono.
Akibatnya, sekolah terus mengalami kekurangan murid hingga akhirnya penutupan menjadi keputusan bersama.