Daerah

Pramono Kukuhkan 2 Duta Antihoaks Jakarta dari 356 Pelajar SMA

Pramono anti hoaks Jakarta
Pramono anti hoaks Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengukuhkan dua Duta Antihoaks Jakarta 2026 untuk memperkuat literasi digital warga Ibu Kota. Program ini melibatkan 356 pelajar SMA dari 119 sekolah.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat gerakan anti hoaks dengan mengukuhkan dua pelajar sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026. Pengukuhan dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Dua pelajar yang terpilih adalah Winda dari SMAN 68 Jakarta dan Muhammad Ibrahim Gumay dari SMAN 71 Jakarta. Keduanya dinilai mampu menjadi penggerak literasi digital serta mengajak teman sebaya untuk lebih kritis menghadapi informasi di media sosial.

Program ini berasal dari seleksi yang diikuti 356 pelajar dari 119 SMA Negeri di Jakarta. Pendaftaran telah berjalan sejak Juli 2026, sebelum akhirnya disaring hingga tersisa 10 finalis dan dua duta terpilih.

Pramono: Hoaks Sering Abu-Abu

Pramono menilai penyebaran hoaks tidak selalu mudah dikenali karena banyak informasi berada di area abu-abu. Ia menyebut pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan layanan Jakarta Lawan Hoaks atau Jalahoaks untuk menangkal berita bohong.

“Karena untuk mengetahui tadi dengan deklarasi 5 poin, apakah itu benar atau salah, kadang-kadang dalam hoaks itu betul-betul abu-abu,” ujar Pramono saat acara penganugerahan Duta Antihoaks Jakarta 2026.

Menurutnya, keterlibatan pelajar penting karena mereka berada dekat dengan lingkungan digital dan mampu menjangkau teman sebaya secara lebih luas. Pramono berharap para duta tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar aktif mengedukasi masyarakat.

“Saya terus terang gembira dengan acara ini karena ini adalah mungkin yang pertama kali ada Duta Antihoaks di Republik Indonesia ini. Apalagi sebagai dutanya adalah pelajar-pelajar kita,” kata Pramono.

Tugas Duta Antihoaks Jakarta

Selama satu tahun ke depan, Winda dan Muhammad Ibrahim Gumay akan menjalankan sejumlah program edukasi bersama Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta serta Kementerian Komunikasi dan Digital.

Salah satu agenda utama adalah Antihoaks Goes to School. Kedua duta akan mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengajarkan cara mengenali informasi palsu, memeriksa sumber berita, dan bertanggung jawab sebelum membagikan konten.

Mereka juga akan menjalankan kampanye digital bulanan, membentuk agen antihoaks di sekolah, serta menyampaikan edukasi berdasarkan isu yang sedang berkembang di Jakarta. Kegiatan ini dirancang agar budaya cek fakta tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menyebar ke komunitas dan kanal digital.

Pemprov DKI Jakarta juga memberi kesempatan kepada kedua duta untuk belajar penanganan hoaks ke luar negeri. Langkah tersebut dimaksudkan agar mereka memperoleh pengalaman langsung tentang literasi media dan strategi penanggulangan disinformasi.

Hoaks Pencatutan Pejabat Masih Muncul

Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengungkapkan bahwa hoaks yang paling sering muncul di Jakarta masih berkaitan dengan penipuan. Modus tersebut meliputi undangan palsu, phishing, serta pencatutan nama pejabat atau pihak tertentu.

“Based on our coordination, the most common hoaxes currently involve scams, such as fake invitations, phishing, and other misinformation purporting to be from officials or other individuals. Therefore, we need to combat this,” ujar Marulina, Senin, 2 November 2026.

Pramono menambahkan bahwa Jakarta memiliki Indeks Masyarakat Digital tertinggi secara nasional, yakni 56,97. Meski demikian, ia menegaskan tingginya adopsi digital tidak otomatis menghilangkan risiko hoaks.

Oleh karena itu, pemerintah provinsi menekankan tiga kebiasaan dasar kepada warga: kritis menerima informasi, cermat memverifikasi, dan bertanggung jawab sebelum membagikan. Pramono juga menilai keterbukaan informasi pemerintah dapat mengurangi ruang bagi kesalahpahaman yang berujung menjadi hoaks.

Kolaborasi Lintas Sektor

Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 tidak berjalan sendiri. Pemprov DKI menggandeng sejumlah mitra, antara lain Komdigi, Bank Indonesia Perwakilan Jakarta, Transjakarta, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Pelindo, dan Ancol.

Kolaborasi ini diharapkan memperluas jangkauan edukasi, terutama kepada warga yang aktif menggunakan transportasi publik dan ruang publik digital. Dari 356 peserta awal, 50 pelajar juga telah mengikuti pelatihan bersama Bank Indonesia dalam Jakarta Youth Leader Camp di Ancol.

Para finalis sebelumnya menjalankan proyek kampanye literasi digital pada 28 Agustus hingga 25 September 2026. Presentasi hasil kampanye dilakukan di hadapan dewan juri pada 29 September 2026 sebelum dua duta ditetapkan.

Langkah Pemprov DKI Jakarta ini menegaskan bahwa penanggulangan hoaks tidak cukup hanya menjadi urusan pemerintah. Dengan pelibatan pelajar, sekolah, komunitas, dan mitra lintas sektor, gerakan Jakarta Lawan Hoaks diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan kolektif warga Ibu Kota.