Harga batu bara naik setelah perang AS-Israel dengan Iran mengganggu pasokan minyak dan gas, mendorong sejumlah negara Asia kembali mengandalkan batu bara.
Harga batu bara naik di tengah perang AS-Israel dengan Iran yang mengganggu rantai pasok energi global. Konflik yang dimulai setelah serangan ke Tehran pada 28 Februari 2026 turut mengguncang pasar minyak dan gas.
Gangguan semakin besar setelah Iran menutup Selat Hormuz. Jalur strategis itu biasanya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
Akibatnya, sejumlah negara yang bergantung pada impor energi mulai mencari sumber alternatif. Batu bara kemudian kembali menjadi pilihan untuk menjaga pembangkit listrik tetap beroperasi.
Harga Batu Bara Naik Saat Pasokan Energi Terganggu
Sementara itu, harga batu bara tercatat 131,85 dollar AS per ton pada Juli 2026. Angka tersebut naik dari 102,20 dollar AS per ton pada periode sama tahun sebelumnya.
Meski harga batu bara ikut meningkat, komoditas ini masih lebih murah dibandingkan minyak. Selain itu, pasokannya relatif tersedia untuk menggantikan sebagian kebutuhan energi berbasis gas.
Gangguan pasokan juga muncul setelah fasilitas energi di kawasan Teluk terkena serangan. Qatar bahkan menyatakan force majeure atas kontrak pengiriman LNG pada Maret 2026.
Asia Kembali Mengandalkan Batu Bara
Dampaknya paling terasa di Asia karena kawasan tersebut sangat bergantung pada energi dari Teluk. Data EIA menunjukkan sekitar 82 persen pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz pada 2022 menuju Asia.
China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama pengiriman tersebut. Karena itu, gangguan pasokan gas mendorong sejumlah negara meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara.
Jepang melonggarkan pembatasan pembangkit batu bara lama. Sementara itu, Korea Selatan menunda penutupan sejumlah pembangkit yang sebelumnya masuk rencana penghentian bertahap.
Di Bangladesh, pemerintah meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara setelah sebelumnya menghadapi pemadaman dan pembatasan bahan bakar.
Selain itu, Thailand, Filipina, dan Vietnam juga meningkatkan pembangkitan batu bara. Langkah tersebut bertujuan menjaga cadangan gas yang semakin menipis.
Permintaan Batu Bara Ikut Menguat
Pakistan mencatat peningkatan penggunaan batu bara impor yang lebih tajam. Hingga Juli 2026, pembangkitan listrik dari batu bara impor naik 90 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut meningkatkan keuntungan perusahaan tambang. Thungela Resources mencatat laba semester I-2026 yang meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi tambang Ensham di Queensland juga naik 38 persen menjadi 2,2 juta ton. Sebelumnya, produksi tambang tersebut berada di angka 1,6 juta ton.
Secara faktual, peningkatan permintaan dan harga batu bara menunjukkan bagaimana gangguan energi fosil dapat mengubah pilihan pembangkit dalam waktu relatif cepat.