Internasional

Langit Oranye Indonesia Jadi Sorotan Media Dunia, Ini Faktanya

langit oranye Indonesia
langit oranye Indonesia

Langit oranye Indonesia mendadak jadi bahan pemberitaan media internasional pada Kamis (15/10/2026). Sky News, Euronews, dan The Japan Times menyorot kabut asap karhutla yang menyelimuti Palangka Raya dan sejumlah kota lain.

Fenomena ini bukan sekadar pemandangan unik. Kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga. Reuters ikut mendistribusikan rekaman video yang memperlihatkan langit kuning-oranye di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Tiga media dari Inggris, Jepang, dan Eropa membahas kondisi ini pada hari yang sama.

Langit Oranye Indonesia di Mata Media Asing

Sky News menurunkan laporan berjudul “Eerie Orange Smog Shrouds Indonesian Cities”. Media Inggris itu menggambarkan kabut oranye yang menyelimuti sejumlah kota di Indonesia. Menurut Sky News, pencemaran udara di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan jauh melampaui ambang batas berbahaya.

Euronews mengangkat sudut serupa lewat video berjudul “Indonesia’s Skies Turn Apocalyptic Orange as Smoke Blankets Singapore”. The Japan Times menerbitkan laporan “Haze Turns Indonesia Skies Orange, Shuts Schools in East Timor”. Ketiga media itu memublikasikan laporannya pada Kamis (15/10/2026).

Benang merah ketiga laporan itu jelas: asap karhutla sudah mengubah wajah kota-kota di Indonesia. Pemberitaan ini membuat isu karhutla kembali masuk radar pembaca global. Bagi pembaca di Tanah Air, sorotan tersebut terasa relate karena banyak warga mengalami langsung udara yang memburuk.

Warga Palangka Raya: Aktivitas Berkurang Drastis

Sky News mencatat kualitas udara di Kabupaten Katingan dan Palangka Raya pada Kamis beberapa kali lipat di atas ambang berbahaya. Warga Palangka Raya bernama Adinata (46) menggambarkan perubahan warna langit itu. “Langit kemarin sangat kuning,” ujarnya kepada Sky News.

Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat berkurang signifikan. Adinata dan warga lain berharap hujan segera turun untuk membantu meredakan kabut asap. Euronews melaporkan jarak pandang di kota itu menyusut hingga beberapa puluh meter. Rekaman udara memperlihatkan banyak kawasan kota hampir tak terlihat di balik asap. Bundaran Talawang dan patung di dekatnya pun tampak samar.Kabut Asap Palangkaraya hari Ini

Asap Menyebar ke Singapura dan Malaysia

Euronews juga menyoroti dampak lintas negara dari kebakaran tersebut. Asap dari kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan telah menyebar ke Singapura dan Malaysia. Asap itu juga memengaruhi kualitas udara di sejumlah bagian Asia Tenggara lainnya. Gedung ikonik Marina Bay Sands di Singapura hampir tidak terlihat karena kabut tebal menyelimuti cakrawala kota.

The Japan Times mengaitkan krisis asap ini dengan penutupan sekolah selama tiga hari di Timor-Leste akibat pencemaran udara. Laporan itu juga menyoroti jarak pandang di Palangka Raya yang turun hingga puluhan meter.

Kenapa Langit Berwarna Kuning hingga Oranye?

Kabut asap pekat mengandung partikel hasil pembakaran. Partikel itu menghamburkan dan menyerap cahaya, sehingga langit tampak kuning atau oranye. Jarak pandang pun ikut menurun.

Perlu dicatat, atmosfer Indonesia secara keseluruhan tidak berubah warna. Pemberitaan media internasional menyoroti wilayah yang tertutup asap tebal, terutama Palangka Raya dan sejumlah kawasan di Sumatera serta Kalimantan.

Gambut dan Cuaca Kering Jadi Biang Masalah

Reuters dalam laporan penjelas pada Kamis menyebut sumber utama asap adalah kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Kedua wilayah punya hutan luas dan gambut yang rentan terbakar saat kemarau. Musim kering itu biasanya berlangsung dari April hingga Oktober.

Cuaca kering dan panas akibat El Nino memperburuk situasi. Api jadi lebih mudah menyebar dan lebih sulit dikendalikan. Di lahan gambut, api bisa membara di bawah permukaan tanah. Api itu dapat muncul lagi meski bagian atasnya tampak padam.

Sorotan Sky News, Euronews, dan The Japan Times memperlihatkan karhutla di Sumatera dan Kalimantan sudah berdampak lintas negara. Warga berharap hujan segera turun, sementara kondisi di lapangan terus berkembang. Laporan lanjutan soal angka dampak dan penanganan masih ditunggu pembaca. Isu ini layak dipantau karena menyangkut kesehatan, pendidikan, dan hubungan antarnegara di kawasan.