Rencana operasional baru Iran, menurut militer negara itu, akan memaksa kapal perang Amerika Serikat (AS) mundur lebih jauh dari kawasan dalam beberapa hari mendatang. Juru bicara militer Brigjen Mohammad Akraminia menyampaikan klaim itu dalam wawancara pada Jumat, menurut Press TV.
Teheran kembali mempertegas posisinya di tengah ketegangan maritim yang belum mereda. Akraminia menyebut angkatan bersenjata Iran menyiapkan langkah baru agar armada AS makin jauh dari perairan Iran. Ia membahas perkembangan terkini soal kehadiran militer Amerika di kawasan Teluk.
Klaim Jarak 500 Kilometer dari Pantai Iran
Akraminia menyatakan pasukan AS tidak berani mendekati Selat Hormuz. Ia menyampaikan itu untuk membantah klaim Presiden Donald Trump yang mengaku mengendalikan jalur perairan strategis tersebut. Menurut dia, saat ini tidak ada kapal perang Amerika di Laut Oman.
"Kapal-kapal militer AS terpaksa tetap berada pada jarak lebih dari 500 kilometer dari pantai Iran," ujarnya, menurut Press TV.
Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan soal siapa yang sebenarnya menguasai jalur Hormuz. Iran menilai kendali atas selat ada di tangan angkatannya, sedangkan Trump punya klaim sebaliknya.
Akraminia lalu menjelaskan alasannya. "Pasukan Amerika terpaksa mundur hingga jarak lebih dari 500 kilometer karena kemampuan, intelijen, serta keunggulan operasional Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran," tegasnya. Laporan Press TV tidak memuat tanggapan dari Washington atas klaim tersebut.
Rencana Operasional Baru Iran di Sektor Pertahanan Udara
Angkatan Pertahanan Udara militer Iran, kata Akraminia, telah mengembangkan dan menerapkan rencana operasional baru. Markas Besar Pertahanan Udara mengawasi pelaksanaannya, termasuk peningkatan peralatan. Rencana itu, menurutnya, berperan besar dalam menaikkan kemampuan tempur angkatan bersenjata.
Ia menambahkan bahwa militer sudah merancang dan melatih operasi pertahanan udara yang inovatif dan terpadu. Tujuannya meningkatkan kapabilitas operasional dan kemampuan menangkal ancaman. Latihan terpadu itu, menurut dia, bertujuan menyiapkan pasukan menghadapi ancaman.
"Saat ini, kami telah memperkuat kapabilitas pertahanan udara negara secara signifikan, baik dari segi peralatan maupun taktik operasional," katanya.
Bantahan atas Klaim Pertahanan Iran Melemah
Akraminia menepis anggapan Trump bahwa pertahanan Iran sudah melemah. Ia menyatakan Teheran telah mengambil langkah ekstensif untuk memperkuat sistem pertahanan negara. Menurut juru bicara itu, kapabilitas pertahanan udara kini berubah substansial dibanding masa sebelum perang AS-Israel, bahkan dibanding masa konflik.
Militer sudah memperbaiki sebagian besar peralatan pertahanan udara yang rusak selama perang, ujarnya, dan mengoperasikannya kembali. Sistem baru juga memperluas cakupan pertahanan udara.
Latar Perang dan Seruan Kerja Sama Regional
Perang bermula pada 28 Februari ketika AS dan Israel menyerang Iran. Versi Iran menyebut serangan itu tanpa provokasi dan menargetkan pejabat tinggi serta sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan. Serangan itu menewaskan 168 orang, terdiri atas anak-anak, guru, dan orang tua.
Iran membalas dengan serangan terhadap aset AS dan Israel di kawasan. Gencatan senjata menghentikan perang setelah 40 hari, lalu resmi berlaku pada pertengahan Juni lewat Nota Kesepahaman Islamabad. Presiden Iran dan AS menandatangani dokumen itu.
Press TV menyebut Iran terus memegang kendali penuh atas Selat Hormuz sejak awal perang. Akraminia mendesak negara-negara kawasan bekerja sama dan membentuk mekanisme bersama untuk memfasilitasi penarikan pasukan AS.
"Kami meyakini bahwa perdamaian, ketenangan, dan stabilitas yang langgeng hanya dapat dicapai melalui pengakhiran kehadiran serta campur tangan AS di kawasan ini," ujarnya.
Mengapa Selat Hormuz Penting bagi Dunia
Konteks ini penting bagi pembaca Indonesia. Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia, menurut laporan kantor berita regional. Gangguan di jalur itu berpotensi memengaruhi harga energi global. Itu sebabnya setiap klaim militer di sekitar selat selalu mendapat perhatian pasar.
Secara keseluruhan, pernyataan Akraminia memperlihatkan pesan yang ingin Teheran kirim: militernya siap dan pertahanannya pulih. Namun, klaim jarak 500 kilometer dan peningkatan pertahanan udara itu masih berasal dari satu pihak. Pengamat dan pihak lain perlu memverifikasinya, sementara dunia terus memantau perkembangan di kawasan.