Karhutla tetap diwaspadai meski hotspot nasional turun 56,2 persen, karena musim kemarau, curah hujan rendah, El Nino, dan IOD masih meningkatkan risiko kebakaran.
Karhutla tetap menjadi perhatian pemerintah meski jumlah hotspot nasional mengalami penurunan dalam pemantauan terbaru.
Kementerian Kehutanan mencatat hotspot turun menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026. Sehari sebelumnya, jumlahnya masih mencapai 2.170 titik.
Penurunan tersebut mencapai 1.220 titik atau sekitar 56,2 persen. Kemenhut menilai perkembangan ini positif, tetapi belum menjadi tanda karhutla berakhir.
Risiko Karhutla Masih Dipengaruhi Musim Kemarau
Sementara itu, kondisi cuaca masih menjadi faktor penting dalam pengendalian kebakaran. Data BMKG per 21 Agustus menunjukkan 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Bahkan, curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah. Sebanyak 87,28 persen wilayah juga mengalami sifat hujan di bawah normal.
Yang patut dicermati, El Nino telah mencapai intensitas sangat kuat. Pada saat yang sama, IOD berada dalam fase positif.
Menurut Kemenhut, kedua fenomena tersebut dapat mengurangi curah hujan. Dampaknya, risiko kekeringan dan karhutla ikut meningkat.
Hotspot Tetap Diverifikasi ke Lapangan
Di lapangan, pemerintah tidak menjadikan data satelit sebagai satu-satunya dasar penanganan. Kemenhut tetap meminta petugas melakukan verifikasi terhadap indikasi hotspot.
Menurut Ristianto Pribadi, hotspot menunjukkan anomali suhu permukaan yang tertangkap sensor satelit. Indikator tersebut tidak selalu berarti terjadi kebakaran.
Faktanya, waktu lintasan satelit, tutupan awan, atmosfer, dan kemampuan sensor dapat memengaruhi hasil pemantauan.
Karena itu, Kemenhut memperkuat pengendalian bersama BMKG, BNPB, BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, serta masyarakat.
Selanjutnya, pengendalian mencakup pemantauan hotspot, patroli terpadu, verifikasi lapangan, dan pemadaman darat maupun udara.
Tak hanya itu, pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana. Respons cepat juga menjadi bagian dari strategi menghadapi wilayah rawan.
Di sisi lain, penurunan hotspot terbesar terjadi di tiga provinsi Kalimantan. Jumlahnya turun dari 1.563 menjadi 116 titik dalam satu hari.
Namun, pemerintah tetap mempertahankan kewaspadaan karena indikator cuaca menunjukkan kondisi kering masih berlangsung di banyak wilayah.