Merah Putih Global - Banjir Gorontalo yang menerjang Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, memicu penanganan medis darurat di sejumlah titik pengungsian. Dinas Kesehatan setempat langsung menyiagakan tenaga kesehatan sejak hari pertama bencana.
Banjir bandang terjadi pada Selasa malam, 26 Mei 2026, atau sehari menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Luapan air merendam permukiman warga dan memunculkan risiko gangguan kesehatan pascabencana.
Dinas Kesehatan Gorontalo Utara bersama organisasi profesi kesehatan segera bergerak menyalurkan bantuan. Petugas medis ditempatkan di sejumlah lokasi terdampak untuk mempercepat pelayanan.
Kepala Dinas Kesehatan Gorontalo Utara, Sri Fenty N Sagaf, mengatakan pihaknya membagi personel melalui pos kesehatan desa dan tim mobile.
“Kami bergerak cepat membagi tim medis dan logistik melalui pos-pos kesehatan ini, demi memastikan bantuan bisa menyentuh seluruh korban, khususnya kelompok rentan,” katanya, Kamis 28 Mei 2026.
Pos Kesehatan Disiagakan Pascabanjir Gorontalo
Yang menarik, pelayanan kesehatan tetap berjalan penuh meski situasi bertepatan dengan libur Idul Adha. Dinas Kesehatan memastikan seluruh tim tetap siaga di lapangan.
Sri Fenty menjelaskan langkah tanggap darurat dilakukan secara masif untuk mengantisipasi penyakit pascabanjir. Dalam praktiknya, kondisi lingkungan yang tergenang dapat memicu gangguan kesehatan jika tidak segera ditangani.
Pada saat bersamaan, tim mobile Dinas Kesehatan terus memantau kondisi warga di berbagai titik terdampak. Pelayanan dilakukan langsung di lokasi pengungsian maupun desa terdampak.
Hingga berita ini ditulis, seluruh pos kesehatan desa masih beroperasi penuh. Meski genangan air mulai surut, petugas tetap disiagakan.
238 Balita Terdampak Banjir di Kecamatan Biau
Secara faktual, kelompok balita menjadi perhatian utama dalam penanganan medis pascabencana. Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 238 balita terdampak banjir bandang di Kecamatan Biau.
Dari jumlah tersebut, 40 balita membutuhkan perhatian khusus karena mengalami masalah gizi.
“Tim kami dari Puskesmas saat ini telah memetakan sebaran balita tersebut untuk mendistribusikan Makanan Pendamping ASI serta pemenuhan kebutuhan susu formula khusus,” ujar Sri Fenty.
Tak berhenti di situ, distribusi bantuan nutrisi juga dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Hal ini dilakukan agar penanganan lebih tepat sasaran.
Yang jadi sorotan, pemetaan balita dilakukan langsung oleh tim Puskesmas di lapangan. Dengan kata lain, distribusi bantuan kesehatan disusun berdasarkan kondisi riil warga terdampak.
Dinkes Antisipasi Penyakit Pascabanjir
Di balik itu semua, ancaman kesehatan pascabencana menjadi perhatian penting pemerintah daerah. Lingkungan yang masih lembap dan sisa genangan dapat meningkatkan risiko penyakit.
Imbasnya, Dinas Kesehatan terus mengawasi kondisi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan lainnya.
Fenty berharap status kesehatan masyarakat tidak mengalami penurunan signifikan setelah banjir melanda wilayah Kecamatan Biau.
Sementara itu, kondisi genangan air di beberapa titik dilaporkan mulai surut secara bertahap. Namun pada kenyataannya, seluruh tenaga kesehatan masih tetap berjaga untuk memastikan pelayanan berjalan optimal.