Global

Pertahanan Udara Iran Diklaim Pulih, Begini Faktanya

pertahanan udara Iran
pertahanan udara Iran

Pertahanan udara Iran diklaim meningkat signifikan setelah perang dengan AS dan Israel, dengan peralatan rusak diperbaiki dan sistem baru masuk jajaran. Klaim dari militer Teheran itu memicu pertanyaan soal apa yang bisa diverifikasi dan bagaimana dampaknya bagi kawasan.

Militer Iran melanjutkan narasi soal kesiapan tempurnya lewat penjelasan rinci tentang sistem pertahanan udara. Juru bicara Angkatan Darat Brigjen Mohammad Akraminia mengaitkan perubahan itu dengan pengalaman perang melawan AS dan Israel. Press TV memuat wawancara tersebut pada Jumat.

Pertahanan Udara Iran dalam Klaim Terbaru Militer

Akraminia menyebut kapabilitas pertahanan udara Iran berubah substansial. Perbandingannya mencakup masa sebelum perang AS-Israel dan masa konflik itu sendiri. Ia menilai peningkatan datang dari dua sisi, yakni peralatan dan taktik operasional.

Angkatan Pertahanan Udara, kata dia, menyusun rencana operasional baru dan meningkatkan peralatan di bawah pengawasan Markas Besar Pertahanan Udara. Rencana itu, menurut Akraminia, berperan besar menaikkan kemampuan tempur.

"Secara keseluruhan, langkah-langkah ini—termasuk perbaikan peralatan yang rusak, penambahan peralatan baru, perancangan operasi yang inovatif, serta pelaksanaan rencana operasional—telah meningkatkan kapabilitas pertahanan udara Republik Islam Iran secara signifikan dibandingkan masa lalu," jelas Akraminia.

Akraminia merinci empat langkah: memperbaiki peralatan rusak, menambah peralatan baru, merancang operasi inovatif, dan melaksanakan rencana operasional. Iran menempatkan keempatnya sebagai bukti bahwa pertahanannya tidak melemah.

Apa yang Belum Bisa Diverifikasi

Seluruh klaim itu berasal dari pejabat militer Iran lewat media yang berafiliasi dengan negara. Keterangan yang tersedia tidak menyertakan data independen tentang jenis sistem, jumlah unit, atau lokasi penempatannya. Pembaca perlu memisahkan antara pernyataan resmi dan fakta yang terverifikasi.

Pernyataan serupa dari Teheran sebelumnya juga mendapat bantahan. Dalam sejumlah insiden laut belakangan ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) menepis klaim Iran soal kerusakan kapal perang AS. AS dan Israel juga menyebut armada laut Iran hampir seluruhnya hancur.

Klaim jarak 500 kilometer dari pantai Iran pun belum punya pembanding dari pihak lain. Tanpa data posisi kapal, publik tidak bisa menilai seberapa jauh armada AS benar-benar menjaga jarak. Karena itu, publik sebaiknya memperlakukan klaim tersebut sebagai posisi resmi Teheran, bukan temuan lapangan.

Selat Hormuz dan Sensitivitas Pasar Energi

Isu ini menyentuh kepentingan banyak negara, termasuk Indonesia. Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, menurut laporan kantor berita regional. Iran menutup jalur itu setelah perang pecah pada 28 Februari.

Press TV menyebut Iran memegang kendali penuh atas selat itu sejak awal perang. Trump, sebaliknya, mengaku AS menguasai jalur tersebut. Dua klaim yang bertolak belakang itu memberi sinyal ganda bagi pelaku pelayaran dan pasar energi.

Seruan Mekanisme Bersama di Kawasan

Akraminia tidak hanya bicara soal kekuatan militer. Ia mendorong peningkatan kerja sama antarnegara kawasan demi keamanan kolektif. Menurut dia, negara-negara itu harus membentuk mekanisme bersama untuk memfasilitasi penarikan pasukan AS.

"Kami meyakini bahwa perdamaian, ketenangan, dan stabilitas yang langgeng hanya dapat dicapai melalui pengakhiran kehadiran serta campur tangan AS di kawasan ini," katanya.

Seruan itu muncul setelah perang yang, menurut versi Iran, bermula dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Versi tersebut menyebut serangan menyasar pejabat tinggi dan sebuah sekolah dasar di Minab, dengan 168 korban jiwa. Iran membalas lewat serangan terhadap aset AS dan Israel.

Pertempuran berhenti setelah 40 hari melalui gencatan senjata. Pada pertengahan Juni, Iran dan AS meresmikannya lewat Nota Kesepahaman Islamabad. Presiden kedua negara menandatangani dokumen itu.

Dengan demikian, pernyataan terbaru soal pertahanan udara Iran menegaskan sikap Teheran di tengah gencatan senjata. Kepastian tentang kekuatan sebenarnya baru muncul bila ada data independen atau konfirmasi dari pihak AS. Sampai saat itu, Selat Hormuz tetap menjadi titik yang paling dicermati.