Internasinal

Produksi Batu Bara Indonesia Naik Saat Harga Tembus US$131

Produksi batu bara Indonesia mendapat peluang saat harga mencapai US$131,85 per ton. Permintaan global meningkat karena krisis pasokan minyak dan gas.
Produksi batu bara Indonesia mendapat peluang saat harga mencapai US$131,85 per ton. Permintaan global meningkat karena krisis pasokan minyak dan gas.

Produksi batu bara Indonesia mendapat momentum setelah harga komoditas mencapai US$131,85 per ton di tengah meningkatnya permintaan energi global.

Produksi batu bara Indonesia mendapat peluang dari perubahan pasar energi setelah perang AS-Israel dengan Iran mengganggu pasokan minyak dan gas.

Gangguan tersebut mendorong sejumlah negara kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pembangkit listrik. Kondisi itu kemudian ikut menopang permintaan dan harga batu bara global.

Pada Juli 2026, harga batu bara tercatat US$131,85 per ton. Angka tersebut meningkat dari US$102,20 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Produksi Batu Bara Indonesia Berada di Tengah Permintaan Global

Indonesia menjadi eksportir batu bara terbesar di dunia. Australia dan Rusia berada setelah Indonesia dalam daftar negara eksportir utama.

Sementara itu, pemerintah Indonesia pada Maret 2026 membalikkan rencana sebelumnya untuk mengurangi produksi batu bara. Langkah tersebut muncul ketika harga batu bara mulai meningkat.

Dengan demikian, kenaikan harga memberi ruang bagi produsen batu bara untuk mempertahankan aktivitas produksi di tengah perubahan pasar energi.

Asia Kembali Mendorong Permintaan Batu Bara

Di Asia, kebutuhan batu bara meningkat setelah pasokan gas terganggu. Jepang melonggarkan pembatasan pembangkit batu bara lama untuk menghadapi guncangan energi.

Di sisi lain, Korea Selatan menunda penutupan sejumlah pembangkit batu bara yang sebelumnya masuk rencana penghentian bertahap hingga 2040.

Thailand, Filipina, dan Vietnam juga meningkatkan pembangkitan berbasis batu bara. Langkah tersebut bertujuan menjaga cadangan gas yang semakin menipis.

Pakistan bahkan mencatat peningkatan tajam. Hingga Juli 2026, pembangkitan listrik dari batu bara impor naik 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja Produsen Batu Bara Ikut Menguat

Dampak kenaikan permintaan dan harga terlihat pada kinerja Thungela Resources. Produsen batu bara termal asal Afrika Selatan itu mencatat laba semester I-2026 meningkat dua kali lipat.

Produksi tambang Ensham di Queensland, Australia, juga naik 38 persen pada semester pertama 2026. Produksinya mencapai 2,2 juta ton dari sebelumnya 1,6 juta ton.

Selain itu, perusahaan mencatat headline earnings per share sebesar 4,80 rand. Angka tersebut meningkat dari 1,92 rand pada Juni tahun sebelumnya.

Menurut perusahaan, harga batu bara berpotensi tetap tinggi ketika pasar Eropa dan Asia menghadapi kebutuhan energi selama musim dingin.

Yang patut dicatat, peningkatan permintaan batu bara muncul sebagai efek lanjutan dari gangguan minyak dan gas. Sejumlah negara membutuhkan sumber energi yang tersedia untuk menjaga pasokan listrik.

Namun, kondisi tersebut berlangsung di tengah agenda transisi energi global. Batu bara tetap menjadi bahan bakar fosil dengan emisi karbon tinggi, meski permintaannya kembali menguat saat krisis energi.