Internasional

Iran Ambang Kebangkrutan Usai Ekspor Minyak Nasional Terhenti

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent

Iran disebut ambang kebangkrutan setelah ekspor minyak nasionalnya terhenti total sejak akhir Agustus 2026. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut tekanan sanksi mulai melumpuhkan perekonomian Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam wawancara dengan 2Way TV, Rabu (21/10/2026). Ia menyoroti kondisi fasilitas ekspor minyak utama Iran yang disebut sepi aktivitas sejak Agustus lalu.

"Kami tidak melihat adanya pemuatan minyak di fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg sejak Agustus. Saat ini, Iran tidak memiliki minyak yang sedang dalam pengiriman," kata Bessent, dikutip dari Reuters.

Iran Ambang Kebangkrutan Menurut Menkeu AS

Bessent membandingkan kondisi Iran dengan sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut. Ia menilai tekanan ekonomi terhadap Teheran sudah mulai terasa nyata dalam beberapa pekan terakhir.

Menurutnya, perekonomian Iran berpotensi mengalami kemerosotan tajam dalam rentang empat hingga delapan pekan ke depan. Namun Bessent tidak memastikan kapan dampak paling berat akan terjadi.

Data Satelit Konfirmasi Ekspor Minyak Terhenti

Analisis data pelacakan kapal dan citra satelit Uni Eropa yang diolah Bloomberg turut memperkuat klaim tersebut. Data itu dipublikasikan ulang melalui Rigzone pada pekan ini.

Tidak ada satu pun kapal tanker tercatat bersandar di terminal ekspor minyak mentah Pulau Kharg sejak akhir Agustus. Padahal, pada Juli volume ekspor Iran dari terminal tersebut sempat mencapai hampir satu juta barel per hari.

Pulau Kharg selama ini menjadi terminal utama yang menangani sebagian besar ekspor minyak mentah Iran ke pasar internasional. Terhentinya aktivitas di titik tersebut langsung berdampak besar pada arus devisa negara.

Sanksi AS Terus Diperluas ke Sektor Keuangan

Departemen Keuangan AS meluncurkan kampanye sanksi bertajuk Operation Economic Outcast sejak 24 Agustus 2026. Awalnya kebijakan ini hanya menyasar sektor minyak Iran.

Belakangan, cakupan sanksi diperluas hingga menjangkau lembaga keuangan yang menangani transaksi dengan Teheran. Pada 15 Oktober, Washington menjatuhkan sanksi tambahan terhadap sebuah lembaga pemberi pinjaman berbasis di Irak.

Sanksi serupa juga menyasar sejumlah bank lepas pantai Iran serta beberapa perusahaan penukaran valuta asing. Bessent menegaskan langkah ini bertujuan mempersempit akses Teheran terhadap sumber pendapatan dan jaringan keuangan globalnya.

Iran Bantah Klaim Ekonomi di Ambang Kehancuran

Di sisi lain, pemerintah Iran menolak keras klaim bahwa ekonominya sedang menuju kehancuran. Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menyebut narasi tersebut sekadar ilusi yang dibangun pihak luar.

Presiden Masoud Pezeshkian turut angkat bicara pada Minggu (18/10). Ia mengakui serangan militer dan blokade maritim memang menimbulkan persoalan besar bagi negaranya.

Meski demikian, Pezeshkian menegaskan pemerintah tetap mengandalkan kemampuan domestik untuk menghadapi tekanan dari luar. Sikap itu menunjukkan Teheran belum mau mengakui dampak sanksi secara terbuka.

Dampak Ekonomi dan Militer Mulai Terasa

Bank Dunia memproyeksikan perekonomian Iran akan menyusut hingga 7,7 persen pada tahun fiskal 2026–2027. Angka ini mencerminkan beratnya tekanan yang dihadapi Teheran saat ini.

Kepala Komando Pusat AS Brad Cooper turut mengungkap dampak blokade terhadap sektor energi Iran. Menurutnya, blokade telah menghambat ekspor minyak mentah senilai sedikitnya 25 miliar dolar AS.

Cooper bahkan mengklaim Korps Garda Revolusi Islam Iran kini kesulitan membayar gaji personelnya sendiri. Klaim tersebut turut dilaporkan oleh Al Jazeera sebagai bagian dari dampak sanksi berkelanjutan.

Tekanan ekonomi yang menghimpit Iran kini menjadi sorotan dunia internasional. Klaim ambang kebangkrutan dari Washington berbanding terbalik dengan sikap Teheran yang tetap bertahan di tengah sanksi berlapis.