Hotspot karhutla nasional turun dari 2.170 menjadi 950 titik dalam sehari, berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan pada 20 Agustus 2026.
Hotspot karhutla nasional menunjukkan penurunan tajam dalam satu hari. Kementerian Kehutanan mencatat jumlah titik panas turun 1.220 titik.
Data SiPongi Kemenhut menunjukkan hotspot berkurang dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026.
Menurut Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi, penurunan tersebut mencapai sekitar 56,2 persen.
Hotspot Karhutla Turun Tajam di Kalimantan
Penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kedua provinsi tersebut mencatat pengurangan ratusan titik panas.
Di Kalimantan Barat, hotspot turun dari 784 titik menjadi 82 titik. Artinya, jumlah titik panas berkurang sebanyak 702 titik.
Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat penurunan dari 694 menjadi 22 titik. Jumlah hotspot berkurang sebanyak 672 titik.
Selain itu, Kalimantan Selatan mencatat penurunan 73 titik. Hotspot di wilayah tersebut turun dari 85 menjadi 12 titik.
Secara keseluruhan, hotspot di tiga provinsi tersebut turun dari 1.563 menjadi 116 titik. Penurunannya mencapai sekitar 92,6 persen dalam sehari.
Data Satelit Belum Berarti Karhutla Berakhir
Namun, Kemenhut mengingatkan penurunan hotspot belum berarti seluruh kebakaran padam. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi sensor satelit.
Dalam praktiknya, hasil pemantauan dapat dipengaruhi lintasan satelit, tutupan awan, kondisi atmosfer, dan kemampuan sensor mendeteksi panas.
Karena itu, petugas tetap melakukan verifikasi lapangan. Kemenhut juga mempertahankan kewaspadaan karena kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan data BMKG per 21 Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Di sisi lain, curah hujan rendah mendominasi 90,79 persen wilayah. Sebanyak 87,28 persen wilayah juga mengalami sifat hujan di bawah normal.
Selain itu, El Nino berada pada intensitas sangat kuat dan IOD memasuki fase positif. Kedua fenomena tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.