Suku bunga The Fed menjadi sorotan utama pasar global pada 27–28 Oktober 2026. Ekspektasi kebijakan yang tetap ketat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Keputusan suku bunga The Fed pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Pasar secara luas memperkirakan Federal Reserve menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen setelah menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September 2026.
Meski keputusan Oktober diperkirakan netral, pesan kebijakan The Fed tetap menjadi faktor utama. Data CME FedWatch per 27 Oktober menunjukkan peluang bunga ditahan mencapai sekitar 90,6 persen. Sementara itu, pasar menilai kemungkinan kenaikan berikutnya pada rapat Desember 2026 masih tinggi.
Kondisi itu membuat investor terus memantau nada Ketua The Fed, Kevin Warsh. Jika pesan yang keluar cenderung hawkish atau ketat, dolar AS berpotensi menguat kembali. Sebaliknya, nada yang lebih hati-hati dapat memberi ruang napas bagi mata uang negara berkembang.
Mengapa Suku Bunga The Fed Menggerakkan Dolar
Suku bunga The Fed memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, imbal hasil aset berdenominasi dolar juga cenderung naik.
Investor kemudian memindahkan sebagian dananya ke aset dolar yang dianggap memberi imbal hasil lebih menarik. Arus modal keluar dari pasar negara berkembang dapat menekan nilai tukar mata uang lokal, termasuk rupiah, peso Meksiko, real Brasil, dan baht Thailand.
Mekanisme ini dikenal sebagai interest rate differential atau selisih imbal hasil. Selama suku bunga AS tinggi dibandingkan negara berkembang, dolar AS memiliki daya tarik lebih besar sebagai aset penyimpanan nilai.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa ekspektasi kebijakan suku bunga AS yang ketat, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya risiko geopolitik menjadi tekanan utama bagi rupiah.
“Kombinasi kedua faktor tersebut menjelaskan mengapa Rupiah masih tertekan meskipun pergerakan dolar terhadap mata uang utama dunia tidak selalu searah,” ujar Josua Pardede, seperti dikutip Kompas.com pada 27 Oktober 2026.
Rupiah Masih Berada di Bawah Tekanan
Dampaknya sudah terlihat di pasar domestik. Rupiah sempat menembus level Rp18.100 per dolar AS pada 27 Oktober 2026, level yang mencerminkan tekanan berkelanjutan dari sentimen global.
Sejumlah ekonom memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada 28 Oktober 2026. Perhatian pasar tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta pernyataan resmi The Fed setelah rapat.
Tekanan tidak hanya datang dari luar. Faktor domestik seperti kebutuhan impor, arus modal investor asing, dan ekspektasi inflasi juga ikut membentuk pergerakan rupiah. Namun, sentimen global tetap menjadi faktor dominan dalam jangka pendek.
Jika The Fed menahan suku bunga tetapi tetap membuka peluang kenaikan pada Desember, pasar kemungkinan menafsirkannya sebagai hawkish hold. Dalam skenario itu, dolar AS dapat bertahan kuat dan rupiah masih perlu berjaga-jaga.
Negara Berkembang Hadapi Risiko Arus Modal
Tekanan suku bunga The Fed tidak hanya dirasakan Indonesia. Peso Meksiko diperdagangkan dekat level terendah sekitar 11 bulan pada 18,47 per dolar AS. Sementara itu, real Brasil dan peso Chili juga melemah setelah kenaikan suku bunga AS pada September.
Banyak bank sentral negara berkembang memilih menahan suku bunga domestik dan menyerap tekanan melalui pelemahan nilai tukar. Strategi ini bertujuan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas sistem keuangan.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah dapat menaikkan biaya impor, terutama energi, bahan baku industri, dan pangan. Kenaikan biaya impor berpotensi mendorong inflasi domestik bila tidak dikompensasi oleh kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.
Di sisi lain, eksportir dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih lemah. Namun, manfaat tersebut bisa tergerus bila harga komoditas global turun atau biaya produksi meningkat.
Skenario Pasar Pasca Keputusan The Fed
Ada tiga skenario utama yang dipantau pelaku pasar setelah pengumuman suku bunga The Fed:
- Hawkish hold: Bunga ditahan, tetapi The Fed menegaskan inflasi masih tinggi dan kenaikan lanjutan tetap terbuka. Dolar AS cenderung menguat, sedangkan rupiah dan mata uang negara berkembang berpotensi tertekan.
- Neutral hold: Bunga ditahan dengan bahasa seimbang. Pasar dapat merespons tenang, meski ketidakpastian menjelang Desember tetap ada.
- Dovish hold: The Fed memberi sinyal lebih sabar terhadap kenaikan berikutnya. Dolar AS dapat melemah sesaat dan memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.
Laporan CNBC pada 27 Oktober 2026 mencatat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 10 persen. Namun, probabilitas kenaikan pada Desember mencapai lebih dari 80 persen menurut CME FedWatch.
Artinya, keputusan hari ini kemungkinan bukan akhir dari tekanan. Pasar akan lebih fokus membaca arah kebijakan The Fed untuk sisa 2026 dan awal 2027.
Yang Perlu Dipantau Investor Indonesia
Investor dan pelaku usaha perlu memantau tiga indikator utama. Pertama, imbal hasil obligasi Treasury AS, karena kenaikannya biasanya memperkuat daya tarik dolar. Kedua, indeks dolar AS atau DXY, yang menjadi barometer kekuatan dolar global. Ketiga, arus masuk dan keluar dana asing di pasar saham serta obligasi Indonesia.
Bank Indonesia juga menjadi faktor penting. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, dan komunikasi kebijakan dapat membantu meredam volatilitas rupiah. Namun, ruang kebijakan tetap bergantung pada stabilitas inflasi dan kondisi neraca pembayaran.
Selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih hidup, dolar AS berpotensi tetap menjadi magnet modal global. Rupiah dan mata uang negara berkembang lain kemungkinan akan terus bergerak dalam koridor tekanan hingga arah kebijakan moneter AS menjadi lebih jelas.
Keputusan The Fed pada 28 Oktober 2026 kemungkinan tidak membawa kejutan besar soal suku bunga. Tetapi, nada kebijakan yang keluar dari rapat FOMC dapat menentukan apakah tekanan terhadap rupiah mereda atau justru melanjutkan tren pelemahan.