44.000 anak tidak sekolah di Jawa Timur masih menjadi persoalan pendidikan, sementara pemerintah menyiapkan PJJ dan program Paket A, B, serta C.
44.000 anak tidak sekolah di Jawa Timur menjadi perhatian DPRD Jatim. Anak-anak tersebut berasal dari jenjang SD hingga SMA dan belum memperoleh hak pendidikan.
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menyebut persoalan anak tidak sekolah atau ATS sebagai pekerjaan rumah sektor pendidikan.
Ia menyampaikan kondisi tersebut pada Kamis (21/8/2026) dalam pembahasan mengenai pemerataan kesejahteraan melalui sektor pendidikan.
Program PJJ Jadi Salah Satu Solusi
Sementara itu, pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyiapkan sejumlah jalur pendidikan alternatif.
Program tersebut mencakup pembelajaran jarak jauh atau PJJ serta pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C.
Selain itu, tersedia SMA Terbuka dengan sistem PJJ yang ditempatkan di SMAN 1 Kepanjen sebagai sekolah induk.
Faktor Keluarga hingga Anak Tak Mau Sekolah
Namun, pelaksanaan program pendidikan alternatif masih menghadapi kendala. Faktor penyebab anak tidak sekolah berasal dari kondisi internal maupun eksternal.
Menurut Sri Untari, hambatan tersebut antara lain berasal dari orang tua, tuntutan pekerjaan, hingga keengganan anak kembali mengikuti pendidikan.
Di lapangan, kondisi tersebut membuat pemerintah harus menghadapi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan.
Masalah Mental Anak Ikut Jadi Perhatian
Di sisi lain, persoalan pendidikan di Jawa Timur juga mencakup kondisi psikologis anak. Sri Untari menyoroti banyaknya anak sekolah yang mengalami depresi.
Ia menyebut RSD Prof. Moeljono Surabaya mencatat hampir 100.000 anak di Jawa Timur mengalami masalah mental. Kelompok tersebut mencakup anak dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.
Karena itu, kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam pembahasan persoalan pendidikan anak di Jawa Timur.
Sebelumnya, Direktur RSD Prof. Dr. Mulyono, drg. Vitria Dewi, menyebut kasus percobaan bunuh diri pada usia muda meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Kasus yang ditangani berada pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun. Menurut Vitria, tekanan berasal dari faktor dalam diri dan lingkungan sekitar.
Yang patut dicatat, laporan rumah sakit menunjukkan mayoritas tekanan tersebut berkaitan dengan keluarga. Faktor utamanya ialah kurang harmonisnya komunikasi atau hubungan orang tua dengan anak.